Pengamat Ungkap Strategi Trump di Balik Konflik dengan Venezuela: Tekan Harga Minyak demi Kendalikan Inflasi
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat Energi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (FEB Unpad), Yayan Satyakti, menilai kebijakan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang terlihat agresif terhadap Venezuela tak bisa dilepaskan dari strategi besar menekan harga minyak dunia demi mengendalikan inflasi domestik AS.
Menurut Yayan, Trump sejak awal memang mengarahkan kebijakan energinya pada rezim harga minyak murah sebagai instrumen utama menurunkan inflasi dan mendorong aktivitas ekonomi.
“Karena menurut Trump jika ingin inflasi itu turun maka harga minyak itu harus turun,” ujar Yayan saat dihubungi tvOnenews.com, Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan total energy outlook yang dirilis Energy Information Agency (EIA), Amerika Serikat telah merancang skenario penurunan harga minyak mentah hingga kisaran US$55 per barel pada 2026, dari level sekitar US$69 per barel saat ini.
“Artinya bahwa memang harga minyak ini menurut energy outlook, sekarang itu kan US$69, 2026 itu harus US$55,” katanya.
Yayan menyebut kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi American Energy Dominance. Sekitar 60–65 persen perekonomian AS masih ditopang oleh bahan bakar fosil yang sangat menentukan biaya logistik, transportasi, dan rantai pasok industri.
“Perekonomian Amerika ini yang masih didrive mungkin sekitar 60 persen, 65 persen kalau tidak salah itu oleh fossil fuels,” ucapnya.
Menurut dia, Trump menempuh dua jalur utama untuk menekan harga minyak. Pertama, dengan mendorong eksploitasi energi fosil melalui kebijakan baby drill. Kedua, lewat manuver geopolitik dan negosiasi perdagangan internasional yang dikenal sebagai Trump New Deal.
“Nah, dia lakukan itu dengan dua cara. Jadi yang pertama itu kebijakan fossil fuels, itu baby drill. Kemudian yang kedua yaitu mencoba untuk melakukan negosiasi di perdagangan internasional,” jelas Yayan.
Dalam konteks inilah, ketegangan dengan Venezuela dinilai Yayan tidak berdiri sendiri. Secara historis, Amerika Serikat melalui perusahaan-perusahaan seperti Chevron, ExxonMobil, dan ConocoPhillips telah lama menguasai produksi minyak Venezuela sejak awal 2000-an.
“Dari tahun 2000 ini kita ketahui bahwa minyak Venezuela itu sekitar 3,15 juta barrel per day,” ujarnya.
Namun, produksi tersebut merosot drastis setelah perusahaan-perusahaan AS didepak oleh Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada periode 2015–2017.
“Produksi minyak Venezuela itu terus turun, yang tadinya itu 3,15 juta barrel per day itu menjadi hanya pada tahun 2019 itu sekitar 0,85 juta barrel per day,” kata Yayan.
Ia menyebut Trump kemudian mengklaim kembali hak Amerika atas minyak Venezuela, termasuk dengan mendorong kembalinya lisensi Chevron pada Maret 2025.
“Sehingga dikatakan bahwa oleh Trump, Venezuela itu mengambil minyak Amerika Serikat,” ucapnya.
Ketegangan itu memuncak setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya dan mengeluarkan keduanya dari wilayah Venezuela. Trump mengklaim operasi tersebut dilakukan secara presisi tanpa menimbulkan korban dari pihak AS.
Pemerintah Venezuela pun bereaksi keras. Kementerian Luar Negeri Venezuela mengumumkan akan mengajukan banding ke organisasi internasional dan meminta Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat untuk membahas tindakan Amerika Serikat.
“Hanya ada satu presiden di negara ini, namanya Nicolas Maduro Moros,” kata Wakil Presiden Venezuela.
Situasi di dalam negeri Venezuela turut memanas setelah terjadi ledakan besar di Caracas yang diduga berkaitan dengan operasi pasukan elite AS.
Meski demikian, Yayan menilai konflik tersebut tidak otomatis memicu lonjakan harga minyak global. Pasalnya, produksi minyak Venezuela saat ini relatif kecil, hanya sekitar 0,96 juta barel per hari.
“Karena produksi dari Venezuela itu hanya kurang dari satu juta barrel per hari ya. Hanya 0,96 juta barrel per hari,” ujarnya.
Ia menegaskan, pasar minyak dunia saat ini lebih dikendalikan oleh strategi energi Amerika Serikat ketimbang dinamika politik Venezuela. Bahkan, kebijakan Trump justru terbukti mampu mendorong pertumbuhan ekonomi AS.
“Nah ini yang terlihat pada triwulan tiga kemarin kan? Bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat itu sekitar 4,3 persen,” kata Yayan.
Menurutnya, selama strategi American Energy Dominance dijalankan, arah kebijakan AS akan tetap menekan harga minyak global sebagai alat utama mengendalikan inflasi dan menjaga momentum ekonomi domestik. (agr/rpi)
Load more