Polemik Ijazah Jokowi, Dua Solusi Alternatif
- ist
Untuk menolong Jokowi dari proses penghakiman secara sepihak oleh publik maka sebaiknya pemerintah membentuk tim investigasi indpenden untuk menjelaskan fakta sesungguhnya kepada publik mengingat Jokowi adalah mantan presiden yang berhak atas perlindungan. Hal lain adalah dunia pendidikan yang telah ikut serta terseret kedalam stigma buruk dapat mengkoresi dirinya.
Kesimpulan
Sejalan dengan prosesi pembuktian orisinilitas kebenaran antara Nabi Musa Alaihimassalām dengan Fir'aun dihadapan tukang sihirnya sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an :
فَاَلْقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِيْنٌ ۖ
Artinya: "Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya." (Surah Al-A'raf Ayat 107)
Kita mengajak, ayo pendukung Jokowi untuk melemparkan toga-nya seperti yang dilakukan Nabi Musa Alaihimassalām, agar "ular-ular" kecil yang berteriak dimana mana saat dapat dikalahkan. Langkah ini sekaligus menunjukan sikap kenegarawan Jokowi dan untuk membuktikan adanya tanggungjawab moral terhadap moral hukum dan etik dihadapan publik.
"Jika Jokowi tidak memiliki tongkat mukjizat seperti Nabi Musa AS [sebagai bukti kenabian] kita percaya Jokowi memiliki toga sebagai "mukjizat" [sebagai bukti pernah kuliah] yang menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari tuduhan negatif"
Dengan demikian maka sejalan dengan sistim pembuktian hukum kita dimana pejabat publik [baca: publik figur] seperti Jokowi harus membuktikan lebih dahulu soal dirinya pernah kuliah berikut ijazahnya, sekali lagi untuk membuktikan dirinya negarawan.
Sikap kenegarawan Jokowi menghapus seluruh stimulus berikut respons yang mungkin terjadi sekaligus menghindari potensi konflik antara elemen masyarakat.
Berani jujur bukan saja hebat tetapi juga berat namun banyak orang selamat karena kejujurannya.
Load more