Tak Diduga Kesulitan ini Dialami Pemain Timnas Indonesia, Disinggung Wak Haji saat Masih Diasuh STY
- Instagram Ragnar Oratmangoen
Jakarta, tvOnenews.com- Pemain Timnas Indonesia, Ragnar Oratmangoen atau disapa Wak Haji pernah menjelaskan tantangan terbesar saat diasuh Shin Tae-yong.
Apabila kita mengenang sebelumnya, eks Pelatih Shin Tae-yong atau disapa STY ini berasal dari Korea Selatan, hebatnya ia berusaha mempelajari banyak hal.
- Instagram Ragnar Oratmangoen
STY berupaya pelajari budaya Indonesia dan agama Islam. Maka tak heran ia disapa Pelatih toleran, karena mampu mengutamakan ibadah para Pemain (mayoritas Islam) di tengah berlatih.
"Saya berjanji kepada pelatih dan atlet lokal agar menghormati waktu ibadah mereka," tegas Shin Tae-yong dari media Korea, Sportalkorea.
"Dengan ini, saya jadi berkompromi di mana ada yang mengatakan ibadah itu bisa dilakukan pada waktu tertentu. Saya melakukannya dengan baik tanpa rasa tidak nyaman dalam latihan," tutur STY.
Kehadirannya mengasuh dan membina skuad Garuda di Timnas Indonesia tidak diragukan lagi.
Salah satu capain besar Pelatih Toleran ini, mampu mengantarkan Timnas Indonesia sampai Babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Tantangan Besar bagi Pemain dan Pelatih
Namun, siapap sangka dibalik kehebatannya tersebut ada hal yang diusahakan STY 'mungkin' bekum maksimal yaitu bahasa.
Hal inilah pernah disinggung Wak Haji, kalau dia dan pemain lain cukup kesulitan untuk memahami ucapan STY saat berlatih.
Dalam keterangannya, Wak Haji menjelaskan kalau STY kurang fasih berbahasa lainnya.
Ragnar mengungkapkan saat wawancara bersama komika Mamat di Podcast Sport77, dikutip Sabtu (26/4).
Namun di Timnas Indonesia pakai Indonesia. Ditambah, pelatih Timnas Indonesia yaitu Shin Tae-yong kala itu lebih fasih bahasa korea.
Hal inilah jadi tantangannya kata Ragnar, bisa agak menyulitkan memahami saat berlatih.
"Pada awalnya saya sulit, karena dia tidak dapat berbicara bahasa inggris dan penerjemahnya translate ke bahasa indonesia," ungkap Ragnar.
"Lalu, saya juga tidak bisa berbahasa indonesia. Jadi kami (pemain) menggunakan penerjemah lainnya," sambungnya.
"Seorang pelatih yang menerjemahkannya ke bahasa inggris. itu saja sudah sulit, karena saya tidak dapat mengerti apa yang ia maksud dengan pasti," jelas pemain mualaf itu jauh sebelum STY dipecat.
Load more