Harga Saham Antam Melonjak! Diborong Investor, Rekomendasi Buy Menguat Meski Kinerja Melemah
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com – Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tiba-tiba menjadi pusat perhatian pada sesi II perdagangan Jumat (14/11/2025). Di sekitar pukul 15.06 WIB, harga saham ANTM melesat 4,50% ke level Rp 3.020. Lonjakan ini terjadi setelah aksi borong besar-besaran dari investor.
Tercatat sebanyak 200,69 juta saham Antam diperdagangkan dengan frekuensi 43.529 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 599 miliar. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, saham ANTM juga mencatatkan net buy Rp 148,1 miliar, menjadi yang tertinggi di antara seluruh saham yang diborong investor pada hari itu.
Dari sisi teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menilai pergerakan saham ANTM masih berada dalam tren sideways jangka menengah. Namun, rebound dari level support di Rp 2.870 membuka peluang penguatan lebih lanjut. Broker tersebut menyebut saham Antam kini berpotensi menuju area resistance terdekat di Rp 3.100–Rp 3.110.
Kinerja Antam Melemah, Tapi Ketahanan Bisnis Diapresiasi
Meski harga saham menguat, kinerja Antam pada kuartal III-2025 (3Q25) tercatat melemah. Emiten ini membukukan pendapatan Rp 13 triliun, turun 60,4% qoq dan terkoreksi 35% yoy. Penurunan ini disebabkan anjloknya penjualan emas menyusul penutupan lokasi tambang Grasberg serta kebijakan larangan impor.
Namun, segmen bijih nikel menjadi penopang. Penjualan nikel Antam naik signifikan 81,8% yoy menjadi Rp 2,82 triliun. Peningkatan tersebut mendongkrak margin kotor perusahaan menjadi 21,1%, sekaligus menegaskan diversifikasi usaha yang cukup kuat.
Sepanjang Januari–September 2025 (9M25), pendapatan Antam bahkan masih tumbuh 66,7% yoy menjadi Rp 72 triliun. Analis Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Farras Farhan, menilai ketahanan bisnis ANTM tetap solid meski segmen emas mengalami gangguan sementara.
Proyeksi Diturunkan, Tapi Rekomendasi Justru Dinaikkan
Dengan adanya hambatan di segmen emas, Mirae Asset menurunkan proyeksi pendapatan Antam untuk 2025 dan 2026. Estimasi terbaru berada di level Rp 98,8 triliun (2025) dan Rp 96 triliun (2026), masing-masing turun 9,4% dan 1,1% dari prediksi sebelumnya.
EBITDA diperkirakan berada di kisaran Rp 11,1–11,6 triliun dan laba bersih Rp 7,9–8,2 triliun. Di sisi lain, segmen nikel diproyeksi memberi kontribusi laba sekitar Rp 8,9–9,5 triliun, terutama berkat pemanfaatan kuota RKAB sebesar 17,9 juta wmt.
Meski estimasi diturunkan, rekomendasi saham ANTM justru dinaikkan menjadi buy dengan target harga Rp 4.000, mencerminkan valuasi P/E 2026 di level 11,7 kali. Stabilnya harga emas global di atas US$ 4.000/oz juga diperkirakan menjaga margin keuntungan Antam.
Load more