“Jika kita dapat mengelola dan melestarikan warisan ini dengan baik, maka kita juga turut mendukung pengembangan sektor eduwisata berbasis budaya maritim, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Belitung,” tambahnya.
Koordinator kegiatan dari BPPSDM KP–Flinders University, Nia Naelul Hasanah Ridwan, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas SDM dalam konservasi dan pengelolaan warisan budaya bawah air di Belitung.
Selain itu, pelatihan ini merupakan bagian dari proyek “Revisiting Salvaged and Looted Shipwreck Sites in Indonesia: An Integrated Management Framework for Safeguarding Underwater Cultural Heritage”.
Nia menambahkan bahwa pelatihan ini juga menjadi bagian dari implementasi program Integrated Initiative for Underwater Cultural Heritage Preservation, Marine Ecosystem Environment, and Coastal Community Development.
Belitung dipilih sebagai lokasi pelatihan karena memiliki banyak warisan budaya bawah air, termasuk berbagai situs kapal karam dan artefak bersejarah. Secara geografis, wilayah ini berada di jalur pelayaran dan perdagangan dunia yang dikenal sebagai The Maritime Silk and Spice Route.
Salah satu penemuan bawah air paling signifikan di Indonesia adalah Belitung Shipwreck, kapal karam yang ditemukan sekitar 1,5 mil dari pantai Desa Batu Itam, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Kapal ini diperkirakan berasal dari tahun 800 Masehi dan diyakini sebagai Arabian Dhow yang membawa sekitar 60.000 muatan, termasuk:
Keramik Changsha Dinasti Tang dengan motif lotus Budha, kaligrafi Al-Qur'an, serta desain khas Asia Tengah dan Persia.
Artefak dari emas dan perak.
Mangkuk hijau Persia, resin, logam, dan rempah-rempah.
Load more