Gawat! Jelang Lebaran OJK Catat Warga Jabar yang Pinjam Pijol Meningkat
- tvOnenews.com - Cepi Kurnia
Bandung, tvOnenews.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat memprediksi meningkatnya trend dan transaksi P2P Landing atau pinjol dan pay later di Jawa Barat menjelang Hari Raya Lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah.
Staff Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Jawa Barat, Ambar Kartika menyebut, hal itu bisa saja terjadi karena konsumtifitas masyarakat yang meningkat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah.
“Sebenarnya dari isu itu lebih kepada fenomena sosial aja bahwa masyarakat di menjelang lebaran itu kan pasti memang secara konsumtif, secara konsumsi meningkat. Jadi prediksi itu mungkin berangkat dari situ. Banyak hal lah konsumsi, barang-barang di pasar juga pasti akan meningkat konsumsinya,” kata Ambar (23/03/2025).
“Jadi kalau pakai pay later ini akan apa namanya meningkat, ya kalau sesuai prediksi bisa secara logika dan matematikanya mungkin iya gitu kan,” tambahnya
Ambar mengatakan, di tengah kondisi euforia dan antusiasme masyarakat menyambut Hari Raya Idul Fitri banyak masyarakat yang tidak bijak atau kalap dalam berbelanja. Hal itu mempengaruhi psikologi masyarakat hingga akhirnya banyak masyarakat yang belanja barang tidak sesuai kebutuhan.
“Karena kadang-kadang kita apa, yang kita beli itu yang kita butuhkan atau yang kita inginkan. Coba, yang kita butuhkan atau kita inginkan. Oke, orang-orang masyarakat dengan apa ya, banyaknya masif informasi medsos, TikTok Live, Shopee Live segala macam,” kata Ambar.
“Yang dilihat apa, belanjaan kan, rata-rata sebenarnya kita gak butuh-butuh banget kok. Tapi kita pengen, ah mumpung apa, mumpung diskon, mumpung ini, mumpung itu gitu. Nah jadinya fenomena pay later dan sebagainya ya mungkin terjadi gitu ya,” sambungnya.
Di tengah kondisi tersebut, Ambar menyarankan agar masyarakat bisa lebih bijak dalam menggunakan layanan pinjol atau pay later untuk berbelanja kebutuhan. Khususnya pada momentum hari ini saat masyarakat menghadapi Hari Raya Idul Fitri yang membutuhkan banyak pengeluaran.
“Apakah kita bisa itu butuh untuk beli? Jika yes, silahkan. Selanjutnya silah kebutuhan apa, kemampuan. Kita punya kemampuan bayar gak, karena ada konsekuensi itu tadi, suku bunga. Bunganya kan, ada resiko nya juga. Kalau tidak membayar, timbul denda. Kalau tidak membayar, nanti akan tercatat kredit dan sebagainya. Jadi kemarin lagi ke kebutuhan dan kemampuannya,” tuturnya.
Load more