Tak Kalah Sangar dari Hercules, John Kei “The Godfather” juga Terkenal Tega habisi Nyawa Siapapun: Pertama Kali Bunuh Orang Usia 22 Tahun
- Istimewa
tvOnenews.com - Nama Hercules Rosario Marshal kembali menjadi sorotan setelah pernyataannya dianggap melecehkan para purnawirawan TNI, termasuk Letjen TNI (Purn) Sutiyoso.
Respons keras pun datang dari Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo yang secara terbuka menyatakan kemarahannya dalam sebuah video yang ramai beredar di media sosial.
Di balik kontroversi tersebut, kisah hidup Hercules tak kalah menarik untuk disimak. Dikenal sebagai raja preman Tanah Abang, perjalanan Hercules dari Timur-Timur hingga menjadi tokoh penting di Jakarta diwarnai kisah keras dan perjuangan bertahan hidup.
- YouTube
Sebelum menjejakkan kaki di ibu kota, ia sempat menjadi tenaga bantuan dalam operasi militer. Namun, nasib buruk menimpanya ketika luka di tangan membuatnya harus dirawat di RSPAD Gatot Subroto.
Tak tahan menjalani perawatan, Hercules kabur dan memilih hidup di kolong jembatan Tanah Abang.
“Saya mau mandiri. Tiba di Tanah Abang, saya tinggal di kolong jembatan,” ucapnya dalam buku Kick Andy Kumpulan Kisah Inspiratif.
Hidup di jalanan membuat Hercules harus bertahan dengan cara keras.
Ia mengaku selalu tidur dengan golok di tangan, waspada terhadap serangan mendadak.
“Daripada dibunuh, lebih baik saya bunuh duluan,” ujarnya.
Sejak 1980-an, Hercules membangun reputasinya sebagai pemimpin kelompok preman di kawasan padat itu.
Ia bahkan mengaku sering dibacok hampir setiap malam dan dikeroyok oleh ratusan orang bersenjata tajam.
“Tapi memang belum waktunya meninggal,” ujarnya dalam video bersama Gus Miftah dan Ustaz Yusuf Mansur.
- IST
Selain sosok Hercules, ada nama John Refra alias John Kei yang juga tak kalah menyeramkan. Pria yang dijuluki The Godfather itu dikenal luas sebagai preman kelas berat yang disegani sekaligus ditakuti.
Namun siapa sangka, kehidupannya kini berubah setelah menjalani hukuman di Lapas Nusakambangan.
Dalam tayangan Kick Andy yang ditayangkan pada 12 April 2019, John Kei membuka kisah kelam masa lalunya.
Lahir di Pulau Kei, Maluku Tenggara pada 10 September 1969 John tumbuh dalam keluarga miskin petani.
“Masa kecil saya pahit, miskin dan sering berkelahi,” ujar John kepada Andy F. Noya.
Ia mengisahkan bagaimana masa sekolahnya tak berjalan lancar. Karena kondisi ekonomi keluarga John masuk SMEA, meski lebih ingin ke STM. Tak betah dan sering terlibat perkelahian, ia akhirnya putus sekolah sebelum naik ke kelas dua. Namun, ia kemudian memperoleh ijazah setara SMA melalui ujian persamaan.
Dengan tekad keluar dari kemiskinan, John meninggalkan kampung halamannya menuju Surabaya dalam usia 18 tahun. Berbekal nekat, ia menyusup ke kapal tanpa tiket.
“Saya diminta kerja membersihkan kapal karena tak punya uang,” kisahnya.
Namun hidup di Surabaya pun tak mudah. Ia sempat tinggal bersama saudaranya, namun kemudian memilih menggelandang karena tidak cocok. Dari sana, ia menuju Jakarta.
Tahun 1992 menjadi awal mula reputasi kriminal John Kei. Bekerja sebagai satpam di tempat hiburan malam, ia terlibat keributan yang berujung pada peristiwa tragis.
"Saya awalnya tidak berniat membunuh, hanya ingin membacok tangannya. Tapi golok mengenai leher dan dia meninggal," ungkap John Kei.
Setelah itu ia bahkan mengaku tidak puas lalu mengejar dan melukai lima hingga enam orang lainnya yang terlibat dalam perkelahian itu.
Usai kejadian tersebut, John Kei sempat buron sebelum akhirnya menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya.
Namun, kekerasan tak berhenti di luar penjara. Ia pun sempat beberapa kali terlibat bentrokan di dalam lapas.
- Capture YouTube/Andy F Noya
“Ribut satu penjara, keroyok saya sama teman-teman, ribut terus,” ujarnya.
Ketika ditanya soal umur saat pertama kali membunuh itu, John menjawab, “Sekitar umur 22 tahun.” Bahkan, saat itu ia mengaku tak menyesal. “Saya merasa jago kalau bunuh orang,” ungkapnya.
Hercules maupun John Kei adalah dua nama yang lekat dalam sejarah dunia premanisme Indonesia. Namun kini keduanya sudah meninggalkan dunia hitam itu.
Kei dikenal aktif di gereja sebagai penceramah, sementara Hercules menjadi mualaf, rutin mengadakan kajian dan menyantuni anak yatim di rumahnya.
Hercules belakangan kembali menjadi sorotan setelah organisasi masyarakat (Ormas) bentukannya mendapat penolakan di Bali.
Gubernur Wayan Koster, senator Niluh Djelantik, hingga Pecalang Bali kompak menolak masuknya Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) Jaya.
Load more