- Gemini AI
Apa Akibat yang Terjadi ke Anak dan Istri Jika Seorang Suami Menafkahi Keluarganya dengan Uang Haram?
tvOnenews.com - Dalam Islam, menafkahi keluarga adalah kewajiban utama seorang suami. Namun, kewajiban itu harus dijalankan dengan cara yang halal dan penuh keberkahan.
Suami yang menafkahi anak dan istri dengan uang haram sejatinya tidak sedang membawa kebaikan bagi keluarganya, melainkan menanam bibit kerusakan yang bisa memengaruhi kehidupan rumah tangganya, bahkan spiritualitas seluruh anggota keluarga.
Ustaz Adi Hidayat, dalam kanal YouTube Adi Hidayat Official, menjelaskan bahwa nafkah halal adalah sumber keberkahan, sedangkan harta haram akan menimbulkan dampak buruk yang luas.
“Orang kalau banyak mengerjakan yang halal, banyak sholehnya. Salahnya akan turun. Maka harta yang halal dibawa ke rumah, diolah oleh istri, dijadikan makanan atau pakaian, itu semua akan memunculkan keberkahan,” jelasnya.
Menurutnya, harta halal tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan, tetapi juga membawa energi positif dalam kehidupan keluarga.
Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 168, Allah memerintahkan manusia untuk mencari rezeki yang halal dan baik (thayyib).
Halal bukan sekadar status hukum, tetapi juga berkaitan dengan keberkahan dan kualitas rezeki yang memberi ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup.
Sebaliknya, ketika seseorang mencari nafkah dengan cara haram, baik melalui korupsi, penipuan, riba, maupun praktik kotor lainnya, maka yang ia berikan pada keluarga bukanlah keberkahan melainkan sumber kehancuran.
“Sebaliknya, orang yang menjauh dari yang halal maka otomatis yang haramnya itu akan naik. Kalau yang haram mengenai, salahnya yang muncul. Halal tenggelam, salahnya banyak muncul,” terang Ustaz Adi Hidayat.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa harta haram bisa menghambat tumbuhnya ketaatan dan ibadah dalam diri anggota keluarga.
Makanan dan pakaian yang berasal dari uang haram dapat memengaruhi hati dan pikiran anak maupun istri, membuat mereka sulit merasa tenang dan jauh dari semangat beribadah.
"Harta haram itu berpengaruh pada peningkatan kesalahan dan kemalasan dalam beribadah. Salat mulai tidak nyaman, puasa berat, bahkan Ramadan bisa jadi persoalan,” ucapnya.
Dampak lain dari nafkah haram juga terlihat dari hilangnya nilai-nilai spiritual dalam rumah tangga. Jika kepala keluarga tidak lagi menjadikan agama sebagai pedoman mencari rezeki, maka rumah tangganya akan kehilangan arah.
“Yang saya katakan, jauh dari agama sudah otomatis, karena yang didapatkan haram, maka agama tidak akan jadi bagian prioritas dalam aktivitasnya,” tambahnya.
Selain itu, harta haram dapat menciptakan pertengkaran, keserakahan, dan hilangnya kasih sayang antaranggota keluarga.
Anak-anak yang tumbuh dari nafkah haram bisa terbiasa dengan perilaku tidak jujur, kurang bersyukur, dan sulit menerima nilai moral yang benar.
Bahkan, rezeki haram diyakini bisa menjadi penghalang doa-doa keluarga agar tidak dikabulkan oleh Allah.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa ketika seorang hamba menjaga kehalalan rezekinya, Allah akan membukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi.
Namun, bila rezekinya kotor, maka keberkahan itu tertutup. Rumah tangga yang semestinya menjadi sumber ketenangan berubah menjadi sumber kegelisahan.
“Kalau sudah berkah, maka hidup itu jadi nikmat. Tapi kalau yang haram yang naik, maka salahnya ikut naik, keberkahan tenggelam,” ujarnya.
Oleh sebab itu, Islam sangat menekankan pentingnya suami bekerja dengan cara halal, sekecil apa pun hasilnya.
Rezeki yang halal, meski sedikit, akan membawa ketenteraman dan memperkuat hubungan suami-istri. Sedangkan rezeki haram, meski melimpah, justru menjerumuskan keluarga dalam keburukan, menjauhkan dari ibadah, dan menghapus keberkahan dalam kehidupan. (adk)