- Tim tvOne - Teguh Joko Sutrisno
Kue Wingko, Asalnya dari Babat Populernya di Semarang
"Ya karena waktu itu wingko dijual di stasiun kereta kan ya, jadi pada bikin bungkusnya itu gambar beberapa model kereta api," ungkap Pak Joen.
Wingko pun semakin populer dan kini menjadi oleh-oleh khas Kota Semarang. Para pembuatnya pun terus berinovasi sehingga wingko kini hadir dengan bermacam ukuran dan rasa. Dari rasa original, hingga rasa durian, coklat, pandan, keju, dan nangka.
Menurut salah satu pembuat dan penjual wingko di kawasan oleh-oleh jalan Pandanaran, penambahan rasa dilakukan untuk mengikuti perkembangan jaman.
"Kita harus inovasi terus ya. Karena penikmat kuliner kan generasinya terus berubah. Sehingga anak jaman sekarang bisa punya banyak pilihan, tidak melulu rasa original tapi ada juga rasa yang sesuai dengan selera. Dan inovasi itu diterima dengan baik dan banyak yang beli," kata Arif, salah satu pembuat dan penjual wingko di jalan Pandanaran Semarang.
Tekstur wingko yang kenyal memang nyaman saat dikunyah. Perpaduan tepung ketan sebagai bahan utamanya dengan kepala parut, gula, garam, serta alas daun pisang saat memanggang, membuat wingko berasa manis dengan aroma harumnya yang khas.
Di Kota Semarang, Wingko gampang sekali diperoleh. Selain di pusat jajanan Jalan Pandanaran, wingko juga dijual di pertokoan dekat stasiun, agen bus, pusat perbelanjaan, tempat wisata, kawasan Kota Lama, hingga di toko online. Harganya beragam tergantung ukuran.
"Kalau kita jual sekarang ini, 25 ribu rupiah per tas isi 20 untuk rasa original kelapa. Kalau yang rasa buah asli harganya 30 ribu," kata Joenaedi.
Monggo gaes, dicoba wingkonya. (Teguh Joko Sutrisno/Buz)