- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Anindya Bakrie Siapkan Strategi Hadapi Trump 2.0, Serukan agar Pengusaha Jajaki Peluang Perdagangan Ala "Glodok" di Level Global
"Jadi kita lihat memang cara berdagang bilateral ini benar-benar kayak orang bilang pedagang Glodok. Nah, tidak ada yang masalah dengan pedagang Glodok, tapi ternyata di level dunia pun ini yang lagi dipakai lebih daripada multilateral yang biasa dilakukan," tuturnya.
Anin juga menekankan perlunya Indonesia melakukan penyesuaian terhadap regulasi, terutama terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan kebijakan kuota.
"Kita tidak ingin terjadi deindustrialisasi, tapi justru industrialisasi yang punya nilai tambah. Itulah yang sekarang disebut dengan hilirisasi," jelas Anin.
Ketum Kadin juga menggarisbawahi potensi besar Indonesia dalam transisi energi berkat kekayaan sumber daya alamnya, mulai dari mineral kritis hingga potensi energi terbarukan seperti surya, air, angin, dan panas bumi.
Lebih jauh, dalam kesempatan yang sama, Anin turut menyinggung potensi pasar baru seperti Turki dan Uni Eropa. Anin menyebutkan bahwa kunjungan Presiden Turki (Recep Tayyip Erdogan) ke Indonesia telah membuka jalan bagi perjanjian dagang baru yang dinilai dapat memberi manfaat besar bagi pelaku usaha nasional, termasuk ekspor komoditas seperti kopi, foodware, dan minyak sawit.
“Tadi saya dengar juga Pak Presiden (Prancis) Macron akan datang akhir Mei. Ini sinyal positif. Tapi perjanjian dagang saja tidak cukup kalau asosiasi dan Kadin daerah tidak memanfaatkannya," ucapnya.
Anin juga mengingatkan pentingnya kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha, serta menyoroti peluang yang muncul dari relokasi kapasitas industri China akibat tekanan perang dagang dengan AS.
"Trump 1.0 dimenangkan Vietnam dan Malaysia. Trump 2.0 bisa jadi giliran kita. Kalau kita pandai, kita bisa menyalip di tikungan," tandas Anin. (rpi)