Ada 70 Pemimpin Dunia Hadir di WEF Davos 2026, Kadin Ungkap Negara yang Dibidik Indonesia
- tim tvOnenews - abdul gani
Jakarta, tvOnenews.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyampaikan bahwa Indonesia akan memainkan strategi diplomasi ekonomi yang lebih dinamis pada World Economic Forum (WEF) Davos 2026.
Selain menargetkan perluasan akses investasi, Indonesia disebut akan memposisikan diri di tengah rivalitas kekuatan ekonomi besar dunia.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menilai momentum tahun 2026 sangat strategis bagi Indonesia, mengingat dua forum ekonomi terbesar dunia berlangsung di dua blok geopolitik berbeda.
“Ya kalau tentu dari Indonesia itu kan secara umum kita bebas aktif ya dari sisi diplomasi, dari sisi bisnis apa lagi. Tapi yang kita lihat tahun 2026 ini sangat menarik karena G20 puncaknya kan di Amerika. Sedangkan APEC puncaknya itu di Cina,” ujar Anindya usai memimpin Rapat Pengurus Harian Kadin di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Jumat (9/1/2026).
Posisi Indonesia sebagai anggota BRICS —yang saat ini beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan dan telah diperluas menjadi sebelas negara dengan bergabungnya Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Iran, dan Indonesia—dinilai memperkuat ruang manuver Indonesia dalam tata ekonomi global.
“Belum lagi Indonesia juga sangat dekat dengan BRICS kan. Karena bagian dari anggota, Brasil, Afrika Selatan, Rusia, India, dan lain-lain,” tegasnya.
Anindya menyebut Davos menjadi ruang penting bagi Indonesia untuk menjaga keseimbangan antara kekuatan-kekuatan ekonomi global, terutama dalam konteks perdagangan dan investasi.
“Nah jadi di situ akan terlihat tuh bagaimana Indonesia bisa memainkan perannya, memposisikan di antara kekuatan-kekuatan ekonomi itu,” ucapnya.
Lebih jauh, ia mengungkap bahwa isu utama yang akan mendominasi Davos adalah pembahasan fenomena yang disebut “triple bubble”, yaitu potensi gelembung ekonomi di sektor kecerdasan buatan (AI), utang global, dan kripto.
“Dan yang menarik juga di Davos ini orang banyak bicara mengenai triple bubble. Yang pertama yang AI, banyak menanyakan apakah ada bubble atau tidak. Yang kedua utang, banyaknya utang di seluruh dunia. Dan ketiga kripto,” jelasnya.
Dengan tantangan tersebut, WEF Davos disebut juga menjadi titik evaluasi masa depan multilateralisme. Menurut Anindya, kecenderungan global kini mengarah pada pembentukan kelompok-kelompok kecil atau minilateral dalam kerja sama ekonomi.
Load more