news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Suasana District Blok M.
Sumber :
  • Julio Trisaputra/tvOnenews

District Blok M Sepi Ditinggal Pedagang UMKM Karena Polemik Harga Sewa, Pengunjung: Blok M Jadi Kehilangan Identitas Kulinernya

Polemik antara Koperasi Pedagang Pasar Pusat Melawai (Kopema) dengan PT MRT Jakarta soal harga sewa kios di District Blok M kini menjadi sorotan publik.
Jumat, 5 September 2025 - 12:18 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Polemik antara Koperasi Pedagang Pasar Pusat Melawai (Kopema) dengan PT MRT Jakarta soal harga sewa kios di District Blok M kini menjadi sorotan publik. 

Pedagang menilai tarif yang ditetapkan terlalu tinggi dan berisiko menyingkirkan usaha kecil, sehingga puluhan tenant memutuskan angkat kaki.

Di tengah tarik ulur itu, pengunjung Blok M merasa khawatir kawasan legendaris tersebut kehilangan identitasnya. Bagi mereka, District Blok M bukan sekadar tempat cobain kuliner atau transit, melainkan ruang hidup yang unik karena keberagaman tenant—dari UMKM hingga merek besar.

Rani Kumala, seorang karyawan swasta berusia 27 tahun, kerap menghabiskan waktu bersama teman-temannya di Blok M. Baginya, daya tarik kawasan itu terletak pada keberagaman dan suasana khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

“Sebagai pengunjung sih saya agak sayang ya kalau pedagang kecil di District Blok M sampai tertekan karena harga sewa yang mahal. Justru daya tarik Blok M itu kan karena ada campuran antara brand besar dan UMKM, jadi kalau yang kecil-kecil pada hilang rasanya vibe-nya bakal beda,” ujarnya. 

Menurut Rani, pemerintah maupun pengelola seharusnya bisa menghadirkan solusi yang adil agar UMKM tetap bertahan tanpa mengorbankan pengembangan kawasan.

Kekhawatiran juga datang dari Sri Wahyuni, 42 tahun, seorang ibu rumah tangga yang sering mengajak anak-anaknya beraktivitas di sekitar stasiun MRT. Baginya, pedagang kecil punya peran penting karena menyediakan jajanan sederhana dengan harga bersahabat.

“Pedagang kecil biasanya jadi tempat kita beli jajanan murah meriah. Kalau mereka sampai tersingkir karena harga sewa tinggi, pengunjung seperti saya jadi kehilangan pilihan,” tuturnya. 

Sri berharap, pihak pengelola tidak hanya memikirkan brand besar, tetapi juga kebutuhan masyarakat luas yang selama ini menjadi pengunjung setia kawasan itu.

Bagi sebagian pengunjung lainnya, dampak paling nyata dari hengkangnya puluhan tenant adalah berkurangnya ragam kuliner khas Blok M. 

Andi Pratama (30), seorang pegawai bank dan pecinta kuliner, menyayangkan kondisi tersebut. 

“Banyak orang datang ke Blok M karena makanannya variatif, mulai dari jajanan murah sampai menu unik yang susah dicari di tempat lain. Kalau pedagang kecil angkat kaki, kita kehilangan alasan utama buat ke sini. Sayang banget kalau Blok M jadi kehilangan identitas kulinernya,” katanya.

District Blok M akan kehilangan “ruh”-nya jika UMKM tak lagi diberi ruang. Bagi mereka, Blok M bukan sekadar pusat belanja modern, melainkan simbol keberagaman kota yang seharusnya dirawat. 

Sebelumnya, polemik kios kosong di District Blok M, Jakarta Selatan, mendapat tanggapan dari Penasehat Koperasi Pedagang Pasar Pusat Melawai (KOPEMA), Mumu Mujtahid. 

Ia menegaskan kabar soal tarif sewa kios mencapai Rp15 juta per bulan adalah tidak benar dan hanya isu yang dipelintir.

“Kenaikan sewa itu sebenarnya memang aslinya dari pihak MRT sesuai perjanjian dengan koperasi. Yaitu Rp300 ribu per bulan bagi pemilik kios yang menggunakan sendiri dan Rp1,5 juta per bulan bila disewakan ke orang lain,” kata Mumu saat dihubungi tvOnenews.com, Kamis (4/9/2025).

Sementara itu, Andre Mandor, pemilik kios Mi Chang, mengaku awalnya penuh optimisme ketika memutuskan membuka usaha di kawasan tersebut. 

Ia rela merogoh kocek Rp19 juta untuk mengambil alih sewa kios dari penyewa sebelumnya. 

“Dari awal buka usaha? Jadi awalnya itu aku kan melihat potensi ya di lokasi Blok M. Terus aku ngambil alih sewa itu di 19 juta dari pemilik sebelum aku,” katanya kepada tvOnenews.com, Kamis (4/9/2025).

Ia menjelaskan, sistem sewa disampaikan langsung oleh pemilik sebelumnya: pembayaran bulanan ke Kopema. 

“Dengan harganya di Rp3 juta kalau kios aku, karena itu satu kios, ditambah ada setengah kios lagi, jadi ada 3 kios yang dibikin jadi 2 kios. Jadi ya satu kiosnya Rp2 juta, ditambah satu kiosnya lagi itu setengah, setengah jadi ya Rp3 juta (sewa) punya aku,” terang Andre.

Namun, baru dua bulan persiapan, masalah muncul. Saat hendak berjualan Agustus lalu, listrik kiosnya mendadak padam. Freezer dan showcase berhenti berfungsi, bahan makanan terancam basi. 

Keluhan pedagang hanya dijawab dengan “sabar-sabar” oleh pihak Kopema. 

Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, mengaku terkejut dengan melonjaknya biaya sewa yang mencapai Rp4,5 juta per kios per bulan. 

Ia menegaskan pihaknya sebagai pengelola justru tidak pernah diberitahu soal penarikan tarif yang dinilai memberatkan pedagang.

“Yang (kenaikan) itu kita tidak tahu. Karena kami tidak diberitahu,” kata Tuhiyat kepada wartawan, Kamis (4/9/2025).

Berdasarkan kesepakatan, tarif sewa ditetapkan sebesar Rp300 ribu untuk anggota koperasi dan Rp1,5 juta untuk pedagang non-anggota. (agr/iwh)


 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:41
05:22
16:05
01:34
51:29
01:22

Viral