Keutamaan I'tikaf di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Kesempatan yang Tak Boleh Disia-siakan
- Unsplash/ Aldin Nasrun
tvOnenews.com - Bulan Ramadhan menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah.
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah i'tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah.
Banyak orang mengira bahwa i'tikaf harus dilakukan dengan menginap di masjid selama beberapa hari.
Namun, menurut penjelasan Ustaz Khalid Basalamah, ada pendapat ulama yang menyebutkan bahwa i'tikaf juga bisa dilakukan dalam waktu yang lebih singkat, selama seseorang memang berniat melakukannya.
Berikut penjelasan Ustaz Khalid Basalamah tentang i'tikaf.

- Unsplash/Rumman Amin
I'tikaf Bisa Dilakukan dari Shalat ke Shalat
Dalam ceramahnya, Ustaz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa sebagian ulama berpendapat i'tikaf tidak harus dilakukan sepanjang hari atau dengan menginap di masjid.
“Ada pendapat ulama yang mengatakan i'tikaf itu yang paling sedikit adalah mengikat antara shalat ke shalat. Jadi misal Maghrib ke Isya, Dzuhur ke Ashar, asal dia niatkan i'tikaf bisa dapat pahalanya insyaallah,” kata Ustaz Khalid Basalamah.
Artinya, seseorang yang datang ke masjid untuk shalat lalu berniat i'tikaf hingga shalat berikutnya tetap berpeluang mendapatkan pahala i'tikaf.
Namun tentu saja, pahala tersebut tidak sama dengan orang yang benar-benar beri'tikaf penuh di masjid selama beberapa hari.
I'tikaf Penuh: Fokus Beribadah di Masjid
Menurut Ustaz Khalid Basalamah, i'tikaf yang dilakukan dengan menetap di masjid memiliki komitmen yang lebih besar.
“Tapi tentu ini berbeda pahala dengan orang yang memang nginap di masjid, karena targetnya memang lima waktu shalat di masjid, tidak boleh keluar dari masjid kecuali memang darurat sekali baru bisa keluar,” ujarnya.
Dalam praktiknya, orang yang beri'tikaf penuh biasanya mengisi waktunya dengan berbagai ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa.

- tvOnenews - Gigih Wahyuningsih
Tujuan Utama I'tikaf: Mencari Lailatul Qadar
Lebih lanjut, Ustaz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa tujuan utama i'tikaf adalah untuk mengejar malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar.
Ia menjelaskan bahwa kata “qadr” sendiri berkaitan dengan takdir atau ketentuan.
“Kita sudah tahu sama-sama, Lailatul Qadar, qadr artinya takdir. Sesuatu yang sedang ditakdirkan, karena memang di malam Lailatul Qadar itu adalah malam penentuan keputusan satu tahun ke depan,” jelasnya.
Malam tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa dan disebutkan dalam Al-Quran.
Malam Lebih Baik dari 1000 Bulan
Ustaz Khalid Basalamah juga mengutip ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan keutamaan malam tersebut.
Allah SWT berfirman:
“Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan”
Ia kemudian menjelaskan makna dari angka 1000 bulan tersebut.
“Yang perlu dipahami di sini, 1000 bulan itu sama dengan 83 tahun lebih 4 bulan,” terangnya.
Artinya, amalan yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar memiliki pahala yang sangat besar.

- Pexels/Furkan Furkan_Uslu57
Amalan Kecil Bisa Bernilai Puluhan Tahun
Sebagai gambaran, Ustaz Khalid Basalamah memberikan contoh sederhana.
“Kalau bapak ibu sempat ucapkan Subhanallah saja pas Lailatul Qadar, maka sama dengan mengucapkan Subhanallah selama 1000 bulan atau 83 tahun lebih 4 bulan,” ujar Ustaz Khalid Basalamah.
Karena itulah, umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Kesempatan yang Tidak Boleh Disia-siakan
Keutamaan Lailatul Qadar menjadi pengingat bahwa setiap detik pada malam tersebut sangat berharga. Bahkan amalan yang terlihat kecil bisa bernilai pahala puluhan tahun.
Ustaz Khalid Basalamah pun mengingatkan bahwa manusia belum tentu memiliki umur panjang untuk beribadah selama puluhan tahun.
Namun dengan rahmat Allah, pahala tersebut bisa didapatkan hanya dalam satu malam.
Karena itu, memperbanyak ibadah, termasuk i'tikaf di masjid, menjadi salah satu cara terbaik untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. (gwn)
Load more