Bagaimana Nasib yang Patungan kalau Hewan Kurban Jadi Kendaraan di Akhirat? Begini Jawaban Ustaz Adi Hidayat Ternyata...
- Tangkapan layar YouTube Adi Hidayat Official
tvOnenews.com - Sebuah pandangan dalam esensi ibadah kurban menjadi perbincangan adalah hewan kurban yang disembelih dihubungkan sebagai kendaraan di akhirat.
Pandangan hewan kurban akan menjadi kendaraan di akhirat kelak disebut makna spiritual dalam ibadah tersebut.
Perspektif hewan sembelihan dalam ibadah kurban dijadikan kendaraan di akhirat sudah dipaparkan dalam sejumlah hadis riwayat Rasulullah SAW.
Dalam redaksinya, hewan kurban yang ditunggangi oleh pemiliknya akan membantu lewati jembatan shiratal mustaqim.
Terkait perbincangan ini, bagaimana nasib yang patungan berkurban satu ekor hewan sapi maksimal sebanyak 7 orang?
- iStockPhoto
Dinukil tvOnenews.com melalui tayangan channel YouTube Adi Hidayat Official, Senin (19/5/2025), Ustaz Adi Hidayat mengupas tuntas hewan kurban sapi yang akan membawa shohibul qurban di akhirat.
Usut punya usut persoalan hadis riwayat dalam pandangan ini, Ustaz Adi Hidayat menegaskan dirinya juga dengar hal ini, karena disebut salah satu keutamaan dari ibadah kurban.
"Betul, saya juga dengar bahkan baca juga referensi khususnya riwayat disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW," ujar Ustaz Adi Hidayat.
Dalam kitab Al-Firdaus karya Imam Ad-Dailami, Ustaz Adi Hidayat mengutip hadis riwayat hewan kurban sebagai kendaraan dari Abu Hurairah RA, berbunyi:
"Gemukkanlah, baguskanlah hewan sembelihan kalian karena sesungguhnya hewan kurban yang dibaguskan itu nanti akan datang di hari kiamat menjadi kendaraan kalian melewati jembatan yang menentukan antara rahmat atau azab, surga atau neraka."
Selain itu, ada juga referensi mengenai hadis riwayat dalam persoalan salah satu kendaraan di akhirat dari hewan kurban itu sendiri.
Terkait hadis riwayat dari Abu Hurairah RA, menurut dia, para ulama dan pakar di bidang hadis menegaskan kalau sanad dari redaksi tersebut lemah.
"Bahkan sebagian di antaranya tidak memiliki asal, sehingga disebut hadis-hadis yang bermasalah," imbuhnya.
Atas jawaban tersebut, hadis riwayat tentang esensi keutamaan dari melaksanakan ibadah kurban namun dikerjakan secara berlebihan juga bersifat lemah.
"Itu tidak ditemukan kekuatannya, atau dipandang lemah dalam persoalan terkait dengan keutamaan penyembelihan hewan kurban," bebernya.
Lebih lanjut pada persoalan hewan kurban, kata dia, para ulama memiliki berbagai tanggapan tentang kendaraan untuk melewati shiratal mustaqim nanti.
"Yang menyebutkan bahwa boleh jadi perkataan-perkataan ini sesungguhnya bukan ingin menunjukkan aslinya. Ini menjadi kendaraan, tapi berupa majas atau kiasan karena ungkapan dalam bahasa Arab itu sering bisa bermakna kiasan," jelasnya.
UAH sapaan populernya berspekulasi terkait makna tujuan tentang penjelasan hewan kurban dianggap berbentuk pahala, bukan diartikan kendaraan.
"Maksudnya, hewan-hewan ini jika memang kita bisa mencari yang paling bagus, mencari yang paling baik, maka dimungkinkan pahalanya semakin bagus, semakin banyak. Dengan banyaknya pahala ini, ini yang memudahkan kita melewati sirat karena timbangannya semakin besar, semakin banyak," paparnya.
Soal nasib shohibul qurban, Direktur Quantum Akhyar Institute itu mengambil gambaran dari kisah anak Nabi Adam AS.
Dalam kisah itu, pahala kurban anak Nabi Adam AS diterima, sedangkan bagi yang memilih dari hasil kurang bermanfaat akan tertolak.
Lagipula, esensi berkurban adalah mencapai ketakwaan, bukan membicarakan daging hewan yang dihasilkan.
Kesimpulan dari penjelasan Ustaz Adi Hidayat, kendaraan yang dimaksud adalah pahala dan seekor sapi tidak akan menunggangi tujuh orang di akhirat kelak.
(far/hap)
Load more