Analisis Psikiater soal Surat Wasiat Anak SD di NTT: Alami Stres yang Luar Biasa
- Istimewa
“Sekarang kita lihat kenapa kalau peristiwa bunuh diri itu artinya orangnya berpendapat bahwa tidak ada jalan keluar lagi. Jadi kalau masih menganggap saya bisa berjuang, maka dia tidak sampai bunuh diri,” tutur psikiater.
Menurut psikiater, korban tampaknya menjadikan sekolah sebagai satu-satunya harapan untuk masa depan yang lebih baik.
“Tapi dalam hal ini sudah tidak ada harapan untuk berikutnya. Jadi rupanya sekolah itu dia jadikan harapan untuk nantinya bisa ya barangkali bisa hidup sebagaimana seharusnya,” kata psikiater.
Namun, tekanan ekonomi membuat harapan itu runtuh, hingga korban memandang hidupnya tidak lagi memiliki masa depan.
“Tapi sekarang kita lihat hanya dengan uang Rp10.000. Jadi itu kan sebetulnya tragis sekali 10.000 akhirnya dia tidak bisa melanjutkan sekolah. Karena tidak bisa melanjutkan sekolah, maka dia memutuskan untuk bunuh diri karena tidak ada harapan hidup. Itu prinsipnya. Prinsip tidak ada harapan untuk hidup lagi,” ucap psikiater.
Surat Wasiat sebagai Gambaran Kondisi Psikologis Anak
Psikiater juga menilai surat wasiat tersebut menunjukkan kondisi psikologis korban yang berada dalam tekanan sangat berat, bukan sekadar stres biasa.
“Jadi jelas dia dalam keadaan stres yang luar biasa. Tapi bukan hanya stres. Kalau hanya stres, maka tidak perlu dia bunuh diri. Tapi stres yang demikian beratnya sehingga tidak ada harapan lagi,” ujar psikiater.
Lebih lanjut, psikiater menambahkan bahwa korban memandang masa depannya sudah tertutup sepenuhnya.
“Jadi dia anggap ke depan itu sudah tidak ada harapan hidup lagi. Kalau sudah tidak ada harapan hidup maka dia lebih baik memutuskan untuk bunuh diri. Kemudian pamit ke ibunya supaya ibunya ya mungkin jangan terlalu sedih tapi tetap itu jalan keluar yang dia ambil,” tutur psikiater.
Peristiwa ini diketahui dipicu keterbatasan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan alat tulis seharga Rp10 ribu.
Kasus tersebut juga mendapat perhatian pemerintah, termasuk Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang menekankan pentingnya pendampingan dan data keluarga miskin ekstrem.
Tragedi Anak SD di NTT ini menjadi peringatan bahwa tekanan hidup dan keterbatasan ekonomi dapat berdampak serius pada kondisi psikologis, bahkan pada anak yang masih sangat muda.
Load more