Walau Terkenal Negatif sebagai Preman, Hercules Diam-diam Punya Amalan Khusus yang Tidak Banyak Orang Tahu, Gus Miftah yang Bocorkan, Walau Sangar, tapi Suka...
- Viva
tvOnenews.com - Nama Hercules dikenal oleh masyarakat sebagai figur preman yang disegani di Jakarta pada era 1990-an.
Pria asal Timor Leste ini dikenal luas karena sepak terjangnya di wilayah Tanah Abang yang kala itu menjadi pusat berbagai aktivitas ilegal.
Dalam kisah yang tercatat di buku *X-Files* karya dokter forensik Abdul Mun’im Idris, Hercules bahkan pernah terlibat dalam insiden kekerasan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo bersama anak buahnya.
Reputasinya sebagai sosok preman bengis dan ditakuti tak terbantahkan.
Namun, waktu mengubah segalanya. Hercules kini bukan lagi figur preman garang seperti dahulu.
Ia telah memilih jalan hijrah dan aktif sebagai pembina organisasi kemasyarakatan (ormas) sekaligus menjalani kehidupan religius.
Perubahan ini pun menarik perhatian publik, apalagi sejak ia rutin mengenakan peci dan tampil santun di ruang publik.
Hercules kini menjabat sebagai Ketua Umum GRIB Jaya (Gerakan Rakyat Indonesia Baru), ormas yang memiliki basis massa cukup besar dan sering terlibat dalam kegiatan sosial maupun politik.
Sosok Hercules semakin jadi perbincangan setelah pendakwah nyentrik, Gus Miftah, mengungkap amalan luar biasa yang diamalkannya secara rutin.
Gus Miftah Bongkar Amalan yang Rutin Dikerjakan oleh Hercules
Dalam sebuah ceramah yang ditayangkan kanal YouTube BTV, Gus Miftah menceritakan bahwa Hercules merupakan salah satu tokoh yang ia kenal secara pribadi dan sangat ia hormati.
- Kolase ANTARA & tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Pendakwah asal Yogyakarta itu mengungkap bahwa Hercules memiliki jaringan hingga satu juta anggota se-Jabodetabek, semuanya memiliki KTA resmi.
"Namanya Hercules, preman besar Tanah Abang. Tapi sekarang luar biasa amalannya," kata Gus Miftah dalam ceramahnya.
Ia menyebutkan bahwa Hercules kerap membangun masjid dan aktif menyalurkan bantuan kepada anak yatim.
Bahkan, setiap hari Kamis dan Jumat sepanjang tahun, Hercules mengundang ratusan hingga ribuan anak yatim ke rumahnya untuk diberi santunan dan berbuka puasa bersama.
"Kalau hari biasa dia undang 300-500 orang, tapi di bulan Ramadhan bisa sampai 2000 anak yatim. Itu tiap Kamis dan Jumat," ungkap Gus Miftah.
Selain itu, Hercules juga rutin berpuasa Senin-Kamis, amalan yang bahkan tidak semua orang beriman mampu menjalaninya secara konsisten.
“Mau sekaya apapun, belum tentu mau mengamalkan ini,” lanjut Gus Miftah.
Lebih jauh, Gus Miftah juga menceritakan kisah masa lalu Hercules yang penuh kekerasan. Ia pernah dibacok hingga 28 kali dan tetap selamat.
Bahkan, matanya pernah ditembak dari jarak dua meter, yang membuatnya kehilangan satu mata dan menggantinya dengan bola kelereng.
“Kalau dia masih hidup, itu karena Allah belum mengizinkan dia mati,” ucap Gus Miftah.
Namun dibalik transformasinya yang tampak religius, Hercules baru-baru ini menjadi sorotan karena pernyataannya yang dinilai merendahkan purnawirawan jenderal TNI.
Dalam sebuah pernyataan yang beredar luas di media sosial, Hercules secara terbuka mengkritik sejumlah purnawirawan yang dianggap tidak konsisten dalam perjuangan politik dan moral bangsa.
Ia menyebut mereka sebagai "jenderal-jenderal yang dulu hebat di lapangan, tapi sekarang hanya bisa bicara di televisi."
Pernyataan ini menuai reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk kalangan militer dan para veteran.
Banyak yang menganggap bahwa sebagai mantan preman yang kini menjadi tokoh ormas, Hercules seharusnya menjaga ucapan dan menunjukkan rasa hormat kepada para jenderal yang telah berjasa bagi negara.
Kritikus menilai bahwa walau Hercules telah berhijrah, jejak sikap lamanya masih terasa dalam cara ia menyampaikan kritik.
Kontroversi tersebut membuat publik mempertanyakan kembali posisi Hercules sebagai pemimpin ormas besar seperti GRIB Jaya.
Meskipun aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, pernyataan-pernyataannya yang frontal kadang dinilai tak sesuai dengan semangat rekonsiliasi dan nasionalisme yang ia klaim perjuangkan.
Namun bagi Gus Miftah, taubat seseorang adalah urusan antara dia dan Tuhan. Ia menyatakan bahwa masyarakat tidak boleh menghakimi masa lalu seseorang seolah-olah tidak ada ruang untuk berubah.
“Kalau Anda mengatakan ahli maksiat itu selamanya bermaksiat, Anda salah,” ujar Gus Miftah.
Pernyataan ini menyiratkan pembelaannya terhadap Hercules yang ia anggap telah sungguh-sungguh menempuh jalan baru dalam hidupnya.
Transformasi Hercules dari seorang preman ke tokoh ormas religius memang bukan kisah yang biasa.
Ia menjalani proses yang keras dan panjang, dan kini mencoba menebus masa lalunya dengan kontribusi keagamaan dan sosial.
Namun, perubahan itu tidak serta-merta membuatnya bebas dari kritik, apalagi jika pernyataan-pernyataannya dinilai menyinggung pihak-pihak yang memiliki jasa besar terhadap bangsa.
Meski demikian, publik tetap menaruh rasa penasaran: apakah Hercules sungguh telah sepenuhnya berubah? Atau masih menyimpan bara karakter lamanya yang keras dan berani menantang arus?
Waktu yang akan membuktikan, apakah amalan dan kiprah barunya akan sejalan dengan perannya sebagai pemimpin ormas Grib Jaya. (udn)
Load more