Anindya Bakrie Sebut Elektrifikasi dan Hilirisasi Mineral Jadi Tulang Punggung Pertumbuhan Hijau Ekonomi Indonesia
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menegaskan bahwa agenda pertumbuhan hijau bukan sekadar isu lingkungan, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi besar pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurutnya, transisi hijau justru membuka peluang investasi, industrialisasi, hingga penciptaan lapangan kerja dalam skala besar.
“Bahwa pada dasarnya pertumbuhan hijau bukanlah sesuatu yang paralel, melainkan bagian integral dari kisah pertumbuhan nasional,” kata Anindya dalam Indonesia Economic Summit 2026 di Shangri-La Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Anindya menyebut pertumbuhan hijau sebagai sebuah growth story yang konkret, karena berpotensi mendorong arus investasi, memperluas perdagangan, dan mempercepat industrialisasi di dalam negeri.
“Mengapa saya menganggap ini sebagai kisah pertumbuhan? Karena menurut saya ini akan menciptakan investasi, perdagangan, industrialisasi, dan pada akhirnya, lapangan kerja. Itulah yang dibutuhkan negara ini,” ujarnya.
Dalam konteks Indonesia, Anindya menilai pemerintah dan pelaku usaha harus menentukan posisi strategis di tengah ekosistem global yang terus berkembang. Ia menekankan pentingnya peran Indonesia dalam rantai pasok hijau dunia.
“Dan ketika kita melihat lebih dalam ke dalam kisah pertumbuhan ini, bagi Indonesia, kita harus memilih di mana kita ingin berperan. Ini adalah rantai pasokan dan ekosistem yang besar,” jelasnya.
Anindya mengidentifikasi dua sektor utama yang akan menjadi penggerak pertumbuhan hijau nasional, yakni elektrifikasi dan hilirisasi mineral. Menurutnya, elektrifikasi menyumbang porsi terbesar dari peluang ekonomi hijau.
“Saya pikir ada dua hal yang terlintas dalam pikiran: satu, elektrifikasi; dan nomor dua, hilirisasi mineral. Sekarang, elektrifikasi mencakup sekitar 40% dari peluang yang ada dalam kisah pertumbuhan hijau ini,” ungkap Anindya.
Ia mengungkapkan bahwa adopsi kendaraan listrik (EV) di Indonesia memang masih relatif kecil, namun menunjukkan tren awal yang menjanjikan.
“Dan tidak banyak orang yang tahu, tetapi tahukah Anda bahwa 1,5 persen dari mobil baru yang dijual di Indonesia saat ini sudah berupa EV (Electric Vehicle) hari ini? Tentu saja Tiongkok 90 persen, mungkin Eropa 60 persen,” katanya.
Meski demikian, Anindya menilai tren tersebut telah memicu lahirnya berbagai industri baru beserta ekosistem pendukungnya. Sejumlah investor global, terutama dari Tiongkok, mulai membangun basis produksi di Indonesia.
Load more