Pemerintah Wajibkan Industri Serap Susu dari Peternak Lokal
- Pixabay
Jakarta, tvOnenews.com - Kementerian Pertanian menginstruksikan industri pengolahan susu untuk menyerap produksi susu dari peternak lokal guna meningkatkan produksi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirim surat kepada seluruh industri pengolahan susu di dalam negeri untuk menindaklanjuti instruksi tersebut, yang merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
"Industri pengolahan susu wajib menyerap susu dari peternak lokal. Jika tidak, maka izin dan kuota impornya bisa kami bekukan atau tahan," ujar Sudaryono dalam pernyataannya di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin.
Saat ini, 80 persen konsumsi susu nasional masih bergantung pada impor, sementara produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan nasional. Presiden Prabowo menargetkan pengurangan impor secara bertahap dengan meningkatkan produksi susu lokal, salah satunya melalui pengadaan sapi indukan dan pembukaan akses investasi bagi perusahaan.
Dalam lima tahun ke depan, pemerintah menargetkan impor dua juta sapi indukan, yang dilakukan tanpa menggunakan dana APBN.
"Kita targetkan ada dua juta sapi indukan yang didatangkan hidup ke Indonesia, dan saat ini sudah ada 167 perusahaan yang berkomitmen untuk berinvestasi dalam mendatangkan sapi. Jadi, negara tidak mengeluarkan APBN, tetapi perusahaan yang berinvestasi untuk pengadaan sapi tersebut," jelas Sudaryono.
Perusahaan-perusahaan tersebut nantinya akan menjalin kemitraan dengan peternak lokal agar industri susu dapat berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.
Saat ini, susu belum dimasukkan dalam Program MBG karena keterbatasan produksi dalam negeri. Pemerintah berkomitmen memastikan bahwa program tersebut akan didukung oleh sumber protein lokal, tanpa mengandalkan susu impor.
"Kami tidak ingin memberikan susu impor kepada anak-anak Indonesia. Untuk sementara, kami akan menggantinya dengan sumber protein lain seperti telur dan daging ayam," pungkas Wamentan. (ant/nsp)
Load more