Melalui langkah-langkah tersebut, KTNA berharap sektor pertanian dapat berkembang lebih baik dan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani.
Menurut Yadi, kesejahteraan petani tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada stabilitas harga gabah. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah konsisten dalam menjaga harga Gabah Kering Panen (GKP) serta memastikan penyerapan gabah dilakukan secara optimal dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
"Kesejahteraan petani hanya bisa tercapai jika pemerintah tetap konsisten menjaga harga gabah kering panen. Pemerintah wajib menyerap gabah, bukan hanya beras," tegasnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa potensi produksi beras nasional pada Januari-Maret 2025 diperkirakan mencapai 8,67 juta ton, mengalami kenaikan signifikan 52,32 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 yang hanya 5,69 juta ton.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebutkan bahwa peningkatan produksi ini sejalan dengan meluasnya potensi luas panen padi yang diproyeksikan mencapai 2,83 juta hektare, naik sekitar 970.330 hektare atau 52,08 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 1,86 juta hektare.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa lonjakan produksi beras ini merupakan hasil dari berbagai strategi yang diterapkan Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
Menurutnya, program-program unggulan seperti optimalisasi lahan rawa, pompanisasi, perluasan areal tanam, serta mekanisasi pertanian terbukti efektif dalam meningkatkan produktivitas lahan dan efisiensi usaha tani.
Load more