Langkah Prabowo untuk Pendidikan Tinggi Indonesia: Gandeng Negara Maju, Reformasi Regulasi, hingga Penataan Ulang LPDP
- BPMI Setpres
Dia menekankan bahwa LPDP, sebagai institusi pengelola dana abadi pendidikan, menjadi tumpuan aspirasi masyarakat, sehingga tata kelolanya harus terus diperbaiki.
"Dan saya berharap dari diskusi bersama tim McKinsey hari ini, kita bisa mendapatkan insight tentang bagaimana mengembangkan institusi LPDP agar dapat terus diandalkan untuk menciptakan pemimpin-pemimpin berkualitas Indonesia di masa depan," ungkapnya.
Sri Mulyani berharap reformasi ini bisa membantu Indonesia mencapai visi Indonesia Emas 2045, menuju cita-cita negara yang adil, maju, dan sejahtera.
Sebagaimana diketahui, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Satryo Soemantri Brodjonegoro menjelaskan alasan pemerintah untuk membolehkan penerima beasiswa LPDP tetap bekerja di luar negeri. Pemerintah menyadari bahwa Indonesia belum mampu menjamin pekerjaan bagi semua alumni LPDP.
Sebagai gantinya, para penerima beasiswa LPDP nantinya tetap bisa berkontribusi kepada Indonesia dengan berkarya dari luar negeri.
Reformasi Regulasi di Pendidikan Tinggi
Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, Prof. Satryo Brodjonegoro selaku Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) mengungkapkan rencana reformasi besar-besaran di sektor pendidikan tinggi.
Dalam wawancara bersama Rosi di Kompas TV, Kamis (7/11/2024), Satryo menyampaikan bahwa perguruan tinggi seharusnya berfokus pada kontribusi nyata bagi masyarakat dan industri nasional, bukan sekadar mengejar peringkat dunia.
Mantan Dirjen Dikti itu menilai regulasi yang ada selama ini terlalu menekankan peningkatan peringkat dunia tanpa mempertimbangkan kebutuhan masyarakat Indonesia.
“Banyak sekali regulasi yang dibuat oleh Kementerian selama ini terlalu banyak yang menuntut perguruan tinggi untuk berprestasi dalam pengertian pencapaian ranking dunia,” ujar Prof. Satryo.
“Padahal, hal itu mengakibatkan kampus kita fokus ke sana tapi lupa kepada masyarakat,” tambahnya.
Gebrakan Mendikti Saintek ini bertujuan mendorong kampus-kampus mengembangkan proyek-proyek terapan yang mendukung sektor seperti industri, pangan, energi, dan air bersih.
“Kalau bidang terapan, mengapa kita tidak membuat industri Indonesia? Sekarang ini industri teknologi kita hebat-hebat, kenapa tidak bikin pabrik Indonesia? Kita bisa kok. Listrik, misalnya, kita bisa bikin,” ujar Prof. Satryo.
Prof. Satryo juga menyoroti perlunya mengubah cara mengukur kinerja perguruan tinggi agar tidak melulu berfokus pada publikasi internasional. Ia menilai bahwa penelitian yang berdampak nyata bagi masyarakat sering kali tidak dihargai dalam penilaian internasional seperti Scopus.
Load more