Jelang Puncak Kemarau, Pemkab Gunungkidul Siapkan Skema Status Darurat Kekeringan
- Tim tvOne - Lucas Didit
Gunungkidul, tvOnenews.com - Diperkirakan wilayah Gunungkidul, Yogyakarta akan masuk puncak musim kemarau pada bulan Agustus hingga September 2023. Upaya antisipasi sudah dilakukan pemkab setempat, dengan pengkajian status darurat kekeringan, agar dampak krisis air bersih tidak meluas.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan, sampai saat ini kekeringan di Gunungkidul masih dalam batas ambang normal. Namun BMKG menyebut puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September mendatang.
"Pada bulan tersebut diprediksi wilayah yang terdampak atau warga yang kesulitan air bersih akan bertambah. Seandainya itu terjadi, kami (BPBD) telah menyiapkan langkah antisipasi dengan meningkatkan status darurat kekeringan,” kata Sumadi, Rabu (2/8/2023).
Seandainya tahun ini kekeringan makin meluas di puncak kemarau, BPBD sudah menyiapkan 1.000 tangki air bersih yang sewaktu-waktu siap disalurkan ke warga.
“Jadi nantinya kalau anggaran droping di BPBD habis, dan ditetapkan status darurat, kita bisa mendapatkan alokasi dana belanja tak terduga., sehingga distribusi air bersih tetap bisa berjalan,” ujarnya.
Saat ini, menurut Sumadi, dari 1.000 tanki yang disiapkan baru tersalurkan 50 tangki, masing-masing di Kapanewon Gedangsari, Rongkop, dan Saptosari. Sedangkan Kapanewon lain belum mengajukan permohonan droping air.
Terpisah, Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono, mengungkapkan, anggaran untuk droping tahun ini mengalami pemangkasan, dari Rp. 700 juta di tahun 2022, kini turun menjadi Rp. 230 juta di 2023.
"Droping air kan hanya sifatnya hanya sementara, sedangkan pemkab sedang melaksanakan optimalisasi sumber air. Harapannya ya jangkauan layanan air PDAM bisa lebih luas," kata Purwono.
“Dalam penanganan kekeringan, droping air tidak dilakukan BPBD sendiri, karena ada 11 kapanewon sudah memiliki dana droping sendiri, ditambah bantuan pihak swasta,” pungkasnya. (ldhp/buz)
Load more