Sragen, tvOnenews.com - Hidup dalam keterbatasan tak menyurutkan semangat Asih dan keluarganya di Sragen, Jawa Tengah.
Selama dua tahun terakhir, mereka harus bertahan tinggal di rumah setengah jadi tanpa atap yang berdiri di tengah kota.
Bangunan rumah yang semestinya memiliki tiga kamar, kini hanya menyisakan satu ruang kecil yang masih bisa digunakan.
Di situlah Asih, suami, dan anak bungsunya tidur, menyimpan pakaian, hingga menaruh buku sekolah.
Dua kamar lainnya sudah tak layak dihuni, bahkan ditumbuhi rumput liar.
Dapur pun jauh dari kata layak. Tanpa tabung gas, keluarga ini masih mengandalkan tungku kayu bakar yang ditempatkan di belakang rumah.
Sementara penerangan hanya mengandalkan sambungan listrik dari rumah sang kakak, karena belum memiliki jaringan listrik mandiri.
Sehari-hari, Asih dan suaminya bergantian berjualan es teh untuk menafkahi keluarga.
Hasil penjualan hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Meski begitu, Asih tetap berusaha menyisihkan sedikit uang.
Asih yang memiliki tiga anak kini tinggal bersama putra bungsunya. Anak sulung sudah berkeluarga, sementara anak kedua bekerja di Solo.
Kondisi rumah yang nyaris tanpa perlindungan membuat keluarga ini kerap terpaksa mengungsi ke rumah saudara ketika hujan deras mengguyur.
Rumah setengah jadi itu sebenarnya dibangun dari material bantuan kakak dan adiknya dua tahun silam. Namun, pembangunan terhenti karena keterbatasan biaya.
Asih hanya bisa berharap suatu hari bisa melanjutkan pembangunan hingga rumahnya memiliki pintu dan jendela layak.
Kini, rumah sederhana Asih sedang diupayakan mendapat bantuan dari program Kampung Bebas Rumah Tidak Layak Huni yang dicanangkan pemerintah daerah Sragen.
Harapan pun kembali terbuka agar keluarga ini bisa segera tinggal di rumah yang lebih aman dan layak huni.