Keistemewaan Malam Lailatul Qadar
Jakarta, tvOnenews.com – Pendakwah Ustadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan bahwa Malam lailatul qadar tidak perlu ditunggu dengan mencari tanda-tanda tertentu, melainkan diraih dengan menghidupkan malam melalui berbagai ibadah.
Dalam sebuah program dialog Ramadan, UAS menjelaskan bahwa kata “qadar” dalam Lailatul Qadar memiliki beberapa makna.
Pertama adalah kemuliaan, sehingga Lailatul Qadar berarti malam yang mulia. Kedua, qadar bermakna takdir, yaitu malam ketika ketetapan Allah bagi manusia ditetapkan. Ketiga, qadar bermakna sempit, yang menggambarkan banyaknya malaikat yang turun membawa rahmat.
Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an menyebutkan kitab suci tersebut diturunkan pada malam yang penuh kemuliaan di bulan Ramadan.
Namun, waktu pastinya tidak disebutkan secara rinci, sehingga umat Islam dianjurkan untuk mencari malam tersebut sepanjang Ramadan, terutama pada sepuluh malam terakhir.
Menurutnya, banyak ulama memiliki pandangan berbeda mengenai malam terjadinya Lailatul Qadar. Sebagian berpendapat terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29. Namun ada pula yang berpendapat bisa terjadi pada malam lain.
Ustaz Somad menegaskan bahwa cara terbaik meraih Lailatul Qadar adalah dengan menghidupkan malam sejak setelah salat Magrib hingga terbit fajar.
Aktivitas yang dianjurkan antara lain salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, beristigfar, hingga melakukan salat malam seperti tahajud.
Ia juga menekankan bahwa Lailatul Qadar tidak hanya bisa diraih oleh orang yang beribadah di masjid. Mereka yang bekerja malam hari, menjaga orang tua, atau menjalankan tugas lain tetap dapat meraih keutamaannya selama menghidupkan malam dengan ibadah.
Terkait tanda seseorang mendapatkan Lailatul Qadar, Ustaz Somad mengatakan tidak ada ciri fisik tertentu yang dapat dijadikan ukuran.
Menurutnya, tanda yang paling nyata adalah perubahan sikap dan perilaku seseorang menjadi lebih baik setelah Ramadan.
Ia juga mengingatkan bahwa doa terbaik yang dianjurkan ketika berharap bertemu Lailatul Qadar adalah memohon ampun kepada Allah. Doa tersebut pernah diajarkan Nabi Muhammad kepada istrinya, Aisyah.
Menurut UAS, inti dari Lailatul Qadar adalah memperbanyak ibadah dan memohon rahmat Allah. Ia berharap Ramadan menjadi momentum perubahan agar umat Islam terus meningkatkan amal kebaikan setelah bulan suci berakhir.