Konflik Iran-Israel Ganggu Irak, Laga Play-off Piala Dunia 2026 di Meksiko Terancam Batal
- Instagram FIFA
Jakarta, tvOnenews.com – Ketidakpastian mengiringi langkah Timnas Irak menjelang laga play-off antar-konfederasi menuju Piala Dunia 2026. Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat agenda penting tersebut berpotensi mengalami kendala serius.
Irak sejatinya dijadwalkan tampil pada 31 Maret mendatang. Skuad Singa Mesopotamia akan menghadapi pemenang pertandingan antara Timnas Bolivia dan Timnas Suriname dalam duel penentuan tiket menuju putaran final Piala Dunia 2026.
Pertandingan tersebut rencananya digelar di Monterrey, Meksiko. Namun konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah memicu gangguan perjalanan internasional yang berdampak langsung pada persiapan Irak.
Ketegangan regional meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara politik, tetapi juga memengaruhi aktivitas transportasi udara di kawasan tersebut.
Salah satu konsekuensi langsung adalah penutupan wilayah udara Irak. Kebijakan tersebut membuat mobilitas tim nasional menjadi sangat terbatas, terutama untuk perjalanan ke luar negeri.
Situasi ini membuat berbagai rencana perjalanan tim menjadi terhambat. Baik pemain, staf, maupun pelatih mengalami kesulitan untuk mengatur keberangkatan menuju lokasi pertandingan.
Di tengah kondisi tersebut, FIFA sebelumnya berusaha menenangkan berbagai kekhawatiran yang muncul. Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau situasi secara intensif.
Infantino juga menyebut bahwa dirinya tidak terlalu mencemaskan kondisi yang berkembang saat ini. Menurutnya, persiapan pertandingan di Meksiko tetap berjalan seperti yang telah direncanakan sebelumnya.
Meski demikian, laporan dari berbagai sumber menyebut kendala di pihak Irak masih cukup besar. Hal ini terutama berkaitan dengan persoalan perjalanan serta administrasi tim yang belum sepenuhnya dapat diselesaikan.
Federasi sepak bola Irak juga telah memberikan penjelasan mengenai situasi yang mereka hadapi. Mereka menegaskan bahwa perkembangan kondisi tim terus dipantau oleh otoritas sepak bola dunia.
“FIFA dan AFC sepenuhnya mengetahui setiap perkembangan situasi tim kami,” tulis federasi sepak bola Irak dalam pernyataan resmi. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa komunikasi dengan otoritas sepak bola internasional masih terus berlangsung.
Federasi tersebut juga menyoroti dampak langsung dari penutupan wilayah udara terhadap staf pelatih. Salah satu yang terdampak adalah pelatih kepala tim nasional, Graham Arnold.
Masalah lain juga muncul dalam proses pengurusan dokumen perjalanan menuju Meksiko. Beberapa kedutaan besar masih belum beroperasi sehingga proses pengajuan visa menjadi terhambat.
“Karena penutupan wilayah udara, pelatih kami Graham Arnold tidak bisa meninggalkan Uni Emirat Arab,” bunyi pernyataan tersebut. Situasi ini membuat koordinasi tim menjadi lebih sulit dilakukan.
“Kami memastikan kepada para pendukung bahwa kami terus berkomunikasi dengan FIFA dan AFC yang memantau situasi ini,” lanjut pernyataan tersebut. Federasi berharap ada solusi yang memungkinkan tim tetap dapat mengikuti pertandingan sesuai jadwal.
Jika pada akhirnya pertandingan tidak dapat digelar sesuai rencana, FIFA memiliki ketentuan khusus dalam regulasi turnamen. Aturan tersebut mengatur langkah yang bisa diambil dalam kondisi darurat.
Klausul itu berkaitan dengan situasi force majeure atau keadaan yang berada di luar kendali penyelenggara. Dalam kondisi seperti ini, FIFA memiliki kewenangan untuk menentukan keputusan terbaik.
“Jika sebuah pertandingan tidak dapat dimainkan atau dihentikan akibat force majeure, badan penyelenggara FIFA berhak mengambil keputusan apa pun yang dianggap perlu,” bunyi regulasi Pasal 6.5 FIFA. Aturan tersebut memberikan ruang bagi penyelenggara untuk menyesuaikan keputusan dengan kondisi yang terjadi.
Selain itu, terdapat pula aturan lain yang membuka kemungkinan perubahan peserta turnamen. Regulasi tersebut memberikan fleksibilitas bagi FIFA apabila ada tim yang tidak dapat berpartisipasi.
Regulasi 6.7 menyebut FIFA dapat mengganti tim yang mundur dengan negara lain jika dianggap perlu. Dengan demikian, penyelenggara masih memiliki beberapa opsi untuk menjaga jalannya kompetisi.
Artinya, ada dua skenario yang dapat terjadi apabila sebuah tim tidak bisa bertanding. FIFA dapat menunjuk negara pengganti atau menyesuaikan format grup sehingga hanya diikuti oleh tiga tim.
(igp)
Load more