Perjalanan Cinta Hoegeng dan Eyang Meri, Bertemu di Sandiwara Radio Saijah dan Adinda hingga Menikah
- YouTube/Semangat Cerita
Jakarta, tvOnenews.com - Istri Jenderal Hoegeng, Meriyati meninggal dunia pada Selasa (3/2/2026) di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Perempuan yang akrab disapa Eyang Meri ini meninggal karena sakit di usianya yang telah menginjak 100 tahun.
Meninggalnya Eyang Meri ini menyusul suaminya, Kapolri ke-5 yang dikenal sangat jujur dan tak bisa disuap, Hoegeng Iman Santoso.
Diketahui, Hoegeng terlebih dulu meninggalkan dunia ini pada 14 Juli 2004 lalu.
Kepergian Eyang Meri tentu menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Indonesia.
Layaknya sang suami, perempuan kelahiran 23 Juni 1925 ini juga dikenal baik dan menjadi tokoh bangsa yang dihormati.
Di satu sisi, pertemuan antara Meriyati dan Hoegeng ternyata cukup tak biasa. Benih cinta keduanya muncul ketika mereka bekerja dalam sandiwara radio "Saijah dan Adinda".
Pada tahun 1945, Meriyati bekerja sebagai penyiar di RRI Yogyakarta. Ia juga diberi kepercayaan untuk ikut berperan dalam sandiwara radio tersebut.
Dikutip dari berbagai sumber, sandiwara radio "Saijah dan Adinda" siaran di RRI Yogyakarta dan Radio Angkatan Laut, Darat, dan Oedara (ALDO) Yogyakarta.
Namun, saat itu tokoh Saijah belum memiliki aktor yang memerankannya. Salah satu Kapten TNI saat itu, Iskak bertugas meimpin sandiwara radio tersebut.
Menurut Meriyati, Iskak kemudian berpikir supaya Hoegeng menjadi aktor yang berperan sebagai Saijah.
"Waktu itu yang diserahkan memimpin ini adalah Pak Iskak dari angaktan laut. Pak Iskak cari siapa yang main, kemudian kok dia sampai ke Hoegeng," kata Meriyati, saat diwawancarai oleh Narasi empat tahun yang lalu.
Dikutip dari YouTube Semangat Cerita, Hoegeng mulanya menolak tawaran tersebut. Sang polisi legendaris itu mengatakan ingin serius berkarir.
Namun, akhirnya ia mau untuk berperan sebagai Saijah berpasangan dengan Meriyati.
Keduanya sering bertemu untuk bekerja hingga benih-benih cinta itu muncul. Kadang, Hoegeng juga mengantarkan Meriyati pulang.
Sekitar setahun kemudian, keduanya pun memutuskan untuk menikah. Hoegeng dan Meriyati terikat dengan janji suci pada 31 Oktober 1946.
Pernikahan itu berlangsung langgeng hingga kemudian keduanya dikaruniai tiga orang anak yaitu Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani.
Load more