Malam Jahanam di Kebon Bawang
- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
"Awalnya, saya mendengar suara gaduh, tapi masih samar, seperti kerumunan yang jauh," ujar Imam dengan suara bergetar. Dari balik layar CCTV di ruang tengah, ia memantau situasi di portal depan rumah.
Di sampingnya, sebuah televisi yang menyala telah menyiarkan berita demonstrasi yang kian memanas. Sementara di luar, warga dan penjaga berusaha menghalau massa yang terus berdatangan, dan tentu saja mereka kalah banyak.
"Portal itu tiba-tiba jebol. Boom! Saya lihat dari CCTV, orang-orang mulai berlarian masuk. Ndan! Kondisi sudah tidak kondusif, kita harus menyelamatkan diri," kenangnya seraya menjelaskan bahwa ia akrab menyapa Sahroni sebagai ‘Ndan’ alias ‘Komandan’.
Batu-batu beterbangan, menghujani serambi dan garasi serta kaca jendela. Entah berapa lusin batu mendarat di dalam, diikuti petasan air mancur yang dilempar sembarangan, memercikkan cahaya oranye dan ledakan.
"Saya duduk di sini, di meja makan ini bersama tujuh orang lainnya," tutur Imam sambil menunjukkan ruang makan yang sudah hancur seperti ruang lainnya.
- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Imam menuturkan, di ruangan itu ada dua pekerja rumah tangga, seorang staf, adiknya, istrinya, seorang teman, dan dirinya sendiri. Total delapan orang, termasuk Sahroni, yang kala itu masih mencoba memastikan situasi.
Tabrani dan seorang tamu berhasil keluar sebelum massa merangsek masuk. Namun yang lain tak sempat melarikan diri melalui pintu utama sehingga mereka panik tergesa menuju tangga darurat. Tangga darurat di ujung ruangan menjadi harapan terakhir, meski tak seorang pun tahu apakah itu cukup untuk menyelamatkan mereka.
“Saya itu mual kalau ingat ruangan-ruangan ini, pengen muntah terbayang kejadian menakutkan itu,” ujar Dini, istri Imam.
Tangga darurat itu berada di ruangan kecil berukuran satu meter, terjal melingkar ke atas hingga lantai empat. Nahasnya, Sahroni tertinggal dan memilih mengunci tangga penyelamat itu setelah orang-orang naik.
Imam dan enam orang lainnya berhasil sampai ke atap. Mereka kemudian melompat ke atap tetangga samping rumah dan memastikan diri selamat. Sayangnya, mereka tidak ada yang tahu bagaimana nasib Sang Anak Priok yang jadi incaran massa.
Load more