Konflik AS-Venezuela Otomatis Dongkrak Harga Minyak Dunia? Begini Kata Pengamat
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat Energi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (FEB Unpad), Yayan Satyakti menjawab soal kondisi harga minyak setelah konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Ternyata, ia melihat bahwa ketegangan antara Amerika dan Venezuela tidak akan serta merta memicu lonjakan harga minyak global.
Dirinya menilai faktor produksi minyak Venezuela yang relatif kecil membuat dampaknya terhadap pasar energi dunia terbatas.
“Kalau misalkan kita lihat disrupsinya di sini, karena produksi dari Venezuela itu hanya kurang dari satu juta barrel per hari ya. Hanya 0,96 juta barrel per hari,” ujar Yayan saat dihubungi tvOnenews.com, Senin (5/1/2026).
Yayan menjelaskan, berdasarkan proyeksi Energy Information Agency (EIA), Amerika Serikat justru tengah mengarahkan strategi untuk menekan harga minyak global. Dalam total energy outlook, harga minyak mentah diproyeksikan turun dari kisaran US$ 69 per barel menjadi sekitar US$ 55 per barel pada 2026.
“Artinya bahwa memang harga minyak ini menurut energy outlook, sekarang itu kan US$69, 2026 itu harus US$55,” katanya.
Ia menambahkan, produksi minyak mentah Amerika Serikat memang turun tipis dari 13,6 juta barel per hari pada 2025 menjadi sekitar 13,5 juta barel per hari. Namun penurunan tersebut dinilai tidak signifikan untuk mengguncang pasar.
“Nah, kemudian yang menarik bahwa strategi khususnya Amerika Serikat untuk memang sengaja menurunkan harga minyak, kalau misalkan mereka memiliki strategi apa yang disebut sebagai American Energy Dominance,” ucap Yayan.
Menurut Yayan, kebijakan energi AS erat kaitannya dengan agenda ekonomi Presiden Donald Trump yang menargetkan penurunan inflasi melalui harga energi yang lebih murah. Sektor bahan bakar fosil masih menjadi penopang utama rantai pasok dan aktivitas ekonomi AS.
“Karena menurut Trump jika ingin inflasi itu turun maka harga minyak itu harus turun,” jelasnya.
Terkait Venezuela, Yayan menilai dinamika politik dan konflik dengan AS lebih bersifat regional. Secara historis, produksi minyak Venezuela pernah mencapai 3,15 juta barel per hari pada awal 2000-an, namun merosot tajam setelah perusahaan-perusahaan AS seperti Chevron dan ExxonMobil hengkang.
“Produksi minyak Venezuela itu terus turun, yang tadinya itu 3,15 juta barrel per day (hari) itu menjadi hanya pada tahun 2019 itu sekitar 0,85 juta barrel per day,” ujarnya.
Meski produksi sempat meningkat pada 2024 melalui kerja sama dengan Repsol dan Eni, Yayan menilai potensi gangguan akibat transisi politik di Venezuela hanya akan berdampak jangka pendek.
Yayan menegaskan, pasar minyak global saat ini lebih dipengaruhi oleh kebijakan strategis Amerika Serikat dibandingkan konflik bilateral AS-Venezuela. Dengan produksi Venezuela yang terbatas, gejolak politik di negara tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Sebelumnya, AS melakukan penangkapan terhadap Maduro dan istrinya. Keduanya lalu dikeluarkan dari Venezuela.
Trump juga mengklaim bahwa operasi tersebut sangat presisi dan tidak menimbulkan korban dari pihak AS.
Kementerian Luar Negeri Venezuela pun telah mengumumkan akan mengajukan banding ke organisasi internasional terkait tindakan AS.
Mereka juga meminta supaya Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat untuk membahas serangan AS tersebut.
"Hanya ada satu presiden di negara ini, namanya Nicolas Maduro Moros," kata Wapres Venezuela.
Selain itu, di Caracas juga terjadi ledakan besar. Diduga hal ini berkaitan dengan aksi pasukan elite AS. (agr/iwh)
Load more