Trump Ancam BRICS dengan Tarif Tambahan 10%, Sindir Akan Segera Bubar
- Xinhua
Washington, tvOnenews.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan keras terhadap aliansi ekonomi BRICS. Dalam pidatonya saat menandatangani GENIUS Act, Sabtu (19/7/2025), Trump mengejek eksistensi BRICS yang kini terdiri dari enam negara, dan bahkan mengancam akan mengenakan tarif tambahan 10% terhadap negara-negara yang mendukung kebijakan anti-Amerika dari kelompok tersebut.
“Ketika saya mendengar tentang kelompok bernama BRICS, saya langsung tekan mereka sangat keras. Jika mereka terbentuk secara serius, kelompok itu akan segera bubar,” kata Trump dikutip dari Reuters.
Trump juga menuduh BRICS tengah mencoba menggoyang dominasi dolar AS, yang menjadi alasan utama ia mengambil langkah-langkah ekonomi balasan. Bahkan, menurutnya, setelah ancaman tarif diumumkan, BRICS menggelar pertemuan yang menurut Trump “nyaris tidak dihadiri oleh anggotanya sendiri.”
“Mereka mengadakan pertemuan dan hampir tidak ada yang datang,” sindir Trump melalui siaran YouTube resmi Gedung Putih.
Dominasi Dolar Jadi Taruhan
Trump secara tegas menyatakan tidak akan membiarkan upaya pelemahan terhadap status global dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia. Ia juga menegaskan komitmennya menolak segala bentuk mata uang digital bank sentral (CBDC) di Amerika, sembari memperkuat posisi dolar lewat peluncuran stablecoin nasional.
“Siapapun yang bermain-main dengan Amerika, akan berhadapan langsung dengan tarif dan konsekuensi serius. Dolar akan tetap jadi penguasa global,” tegas Trump.
BRICS Tak Tinggal Diam
Ancaman Trump memicu respons dari negara-negara BRICS. Meski tak secara eksplisit menanggapi sindiran soal pertemuan sepi, kelompok ini tetap melanjutkan penguatan kerja sama, termasuk dengan mengembangkan sistem pembayaran alternatif lintas negara bernama BRICS Pay, yang memungkinkan transaksi menggunakan mata uang lokal masing-masing.
Meski pada Februari lalu Brasil sempat membatalkan rencana pengajuan mata uang bersama di masa kepemimpinannya, agenda integrasi ekonomi di antara negara-negara BRICS seperti Tiongkok, Rusia, India, Afrika Selatan, dan negara baru seperti Mesir dan Uni Emirat Arab tetap berlanjut.
Retorika Politik atau Strategi Ekonomi?
Ancaman tarif dari Trump diumumkan sejak 6 Juli lalu, tepat saat BRICS menggelar pertemuan tingkat tinggi. Ia juga memposting pernyataan resmi di platform Truth Social.
Load more