Bagaimana Membangun Tourism Product yang Kuat dan Berkelanjutan di Era Digital dan Sosial Media
- Istockphoto
tvOnenews.com - Membangun tourism product yang kuat tidak bisa dilakukan secara instan. Di banyak negara maju, pariwisata dikembangkan melalui perencanaan jangka panjang yang menempatkan manajemen, sumber daya manusia, dan pengalaman wisatawan sebagai satu kesatuan.
Dalam industri pariwisata global, tourism product dipahami sebagai paket utuh yang mencakup atraksi, akses, pelayanan, cerita, hingga sistem pengelolaan. Laporan OECD Tourism Trends and Policies mencatat bahwa negara dengan tourism product terstruktur mampu mempertahankan pertumbuhan pariwisata lebih stabil pascapandemi, dibanding negara yang hanya mengandalkan daya tarik alam.
Di Eropa Barat, lebih dari 70 persen nilai ekonomi pariwisata berasal dari experience-based tourism seperti city tour tematik, wisata budaya, dan event, bukan dari objek wisata tunggal. Data ini menegaskan bahwa kualitas produk dan tata kelola menjadi faktor penentu daya saing.
Contoh konkret dapat dilihat dari Islandia dan Austria. Islandia tidak menjual alamnya secara terpisah, melainkan membangun tourism product berbasis rute (touring routes), paket musim dingin, dan pengelolaan pengunjung berbasis data.
Sementara itu, Austria mengembangkan produk wisata empat musim dengan sistem klaster regional yang dikelola profesional, sehingga desa kecil tetap memiliki nilai jual global.
Menurut World Economic Forum – Travel & Tourism Development Index, kedua negara tersebut unggul dalam pilar tourism services infrastructure dan human capital, yang berkontribusi langsung pada kualitas produk wisata mereka.
Pelajaran penting dari negara maju tersebut adalah bahwa tourism product tidak lahir secara spontan, melainkan melalui organisasi yang rapi, pusat koordinasi yang kuat, dan budaya kerja kolaboratif.
Banyak perusahaan dan lembaga pariwisata global menempatkan kantor pusat atau head office sebagai pusat perancangan produk, riset pasar, serta pengambilan keputusan strategis.
Dalam konteks inilah, langkah-langkah penguatan struktur organisasi, termasuk peresmian pusat operasional baru—menjadi relevan dibaca sebagai bagian dari strategi membangun tourism product yang berkelanjutan dan berdaya saing, bukan sekadar ekspansi administratif.
Pendekatan ini semakin relevan bagi industri pariwisata di Indonesia yang tengah berupaya naik kelas. Persaingan global, perubahan perilaku wisatawan, serta tuntutan keberlanjutan menuntut pelaku industri tidak hanya fokus pada destinasi, tetapi juga pada sistem kerja di baliknya.
Melansir dari berbagai sumber, berangkat dari praktik global dan konteks lokal tersebut, berikut beberapa tips penting membangun tourism product yang relevan, kompetitif, dan berkelanjutan.
Tips Membangun Tourism Product yang Tangguh dan Berkelanjutan, Belajar dari Negara Maju hingga Praktik di Indonesia
1. Mulai dari Visi Jangka Panjang
Negara maju umumnya memiliki visi pariwisata yang jelas dan terukur. Jepang, misalnya, mengembangkan wisata budaya dengan target pelestarian dan pengalaman autentik, bukan sekadar jumlah kunjungan. Visi yang kuat membantu pelaku pariwisata menentukan arah produk, segmentasi pasar, hingga standar layanan.
2. Bangun Organisasi yang Solid
Tourism product tidak lahir dari individu, melainkan dari tim. Karena itu, organisasi yang solid menjadi fondasi utama.
Membangun tim dan menjalankan organisasi, butuh sistem yang efektif dan efisien, serta up to date terhadap tren yang sedang berkembang. Upaya konsolidasi internal, menyatukan tim, menyelaraskan tujuan, dan meningkatkan efektivitas kerja dalam satu pusat operasional.
3. Jadikan Kantor Pusat sebagai Ruang Kolaborasi
Di banyak perusahaan pariwisata global, kantor pusat berfungsi sebagai pusat ide dan pengambilan keputusan strategis. Bukan sekadar ruang administrasi, tetapi tempat kolaborasi lintas divisi. Pendekatan ini penting agar pengembangan produk wisata tidak berjalan parsial, melainkan terintegrasi dari konsep hingga pemasaran.
4. Rawat Budaya Kerja dan Kebersamaan
Budaya kerja yang sehat berpengaruh langsung pada kualitas produk wisata. Hal ini juga tercermin dalam momen peresmian kantor pusat yang bertepatan dengan ulang tahun pimpinan perusahaan.
Pesan ini sejalan dengan praktik di negara maju, di mana keterlibatan karyawan menjadi kunci inovasi.
5. Rayakan Pencapaian sebagai Bagian dari Proses
Seremoni seperti gunting pita dan potong tumpeng mungkin tampak simbolik, namun memiliki nilai strategis. Di banyak organisasi global, perayaan capaian digunakan untuk memperkuat rasa memiliki dan motivasi tim.
Hal serupa terlihat dalam rangkaian acara peresmian yang dilengkapi hiburan musik dan jamuan makan sebagai bentuk apresiasi kepada karyawan.
6. Ciptakan Lingkungan Kerja yang Kondusif dan Inklusif
Lingkungan kerja yang nyaman dan inklusif mendorong kreativitas serta loyalitas. Studi pariwisata di Eropa menunjukkan bahwa perusahaan dengan iklim kerja positif cenderung lebih adaptif terhadap perubahan tren wisata. Karena itu, investasi pada ruang kerja yang representatif menjadi bagian penting dari pembangunan tourism product.
“Peresmian kantor pusat ini merupakan refleksi dari perjalanan panjang yang dibangun bersama dengan dedikasi dan kerja keras seluruh tim. Ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan perusahaan adalah hasil kolaborasi dan kebersamaan seluruh insan,” ujar Direktur Worcas Group, Roysevelt.
7. Fokus pada Keberlanjutan, Bukan Sekadar Ekspansi
Tips terakhir yang tak kalah penting adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan. Tourism product yang kuat tidak hanya mengejar ekspansi pasar, tetapi juga memastikan sistem internal siap mendukung pertumbuhan tersebut.
Penguatan pusat operasional dan tata kelola menjadi langkah strategis agar pengembangan produk wisata tetap terarah. Melalui berbagai pelajaran ini, dapat disimpulkan bahwa membangun tourism product membutuhkan pendekatan menyeluruh: visi yang jelas, organisasi yang solid, budaya kerja kolaboratif, dan sistem yang berkelanjutan.
Pengalaman peresmian kantor pusat Worcas Group, sebagai salah satu pelaku industri, menjadi contoh bagaimana penguatan internal dapat berperan dalam strategi pariwisata jangka panjang. Pada akhirnya, tourism product yang kuat selalu berangkat dari fondasi organisasi yang sehat dan adaptif.
Pengembangan tourism product yang tangguh tidak dapat dilepaskan dari kesiapan organisasi dan kualitas pengelola di baliknya.
- Ist
Pengalaman negara maju hingga praktik di dalam negeri menunjukkan bahwa destinasi yang menarik perlu ditopang oleh visi jangka panjang, budaya kerja kolaboratif, serta sistem pengambilan keputusan yang rapi dan berkelanjutan.
Ketika fondasi internal dibangun dengan baik, inovasi produk wisata akan tumbuh secara alami dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dengan pendekatan yang lebih terencana dan manusiawi, pariwisata tidak hanya menjadi mesin ekonomi, tetapi juga ruang pembelajaran, kolaborasi, dan keberlanjutan bagi masa depan industri. (udn)
Load more