Obituari Sarwono Kusumaatmadja: Menapak Jejak Sang Teknokrat Orde Baru
- sumber: Dok Tempo/ Fernandez H
Bersimpati pada Pembredelan Tempo
Ketika pada 1994, Majalah Tempo dibredel Pemerintahan Soeharto, Sarwono yang dekat dengan penguasa saat itu, termasuk yang berani memberikan dukungan secara terbuka. Sarwono memang cukup dekat dengan pers. Salah satu sahabat Sarwono saat mendirikan Partai Golkar, Rahman Toleng menjadi evaluator sikap pemberitaan Tempo. Saat itu Majalah Tempo dibolehkan terbit kembali dengan sejumlah syarat. Seperti ditulis dalam memoar Goenawan Mohamad, selain harus mengganti nama, Majalah Tempo juga harus menerima investor baru, yang disodorkan adalah Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo. Ketika negossiasi, Hashim memberikan ultimatum untuk ikut menyeleksi jajaran pemimpin Tempo. Ultimatum hashim ditolak Goenawan. Mengetahui penolakan Goenawan, Sarwono bertanya mengapa GM melawan keras tindakan pembredelan tersebut, “It is about self-respect,” kata GM dalam memoar yang pernah diupload di akun Facebooknya.
Maju Sebagai Bakal Cagub di DKI Jakarta
Pada tahun 2007 Sarwono melamar sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta masa jabatan 2007-2012 melalui PDI Perjuangan. Ia menempati peringkat teratas dibandingkan enam bakal calon gubernur di partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu, dengan nilai 96, mengungguli ekonom Faisal Basri (skor 95), Bibit Waluyo (91), Edy Waluyo (89), Agum Gumelar (85), dan Fauzi Bowo (80). Tapi, akhirnya PDI Perjuangan menetapkan Fauzi Bowo sebagai calonnya berkoalisi dengan sekitar 20 partai dan berhasil memenangi pemilihan gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat untuk pertama kalinya.
Di masa tuanya Sarwono memilih tinggal dan hidup bersama salah satu anaknya di Jakarta Selatan. Pernah menjadi pejabat sekelas menteri, Sarwono ternyata tidak memiliki rumah. Rumah yang ia tempati sekarang ini, milik anaknya. Sarwono tetap aktif di Partai Golkar. Ia juga mendorong kaum muda untuk masuk ke Partai Golkar. Ia membayangkan Partai Golkar bisa kembali jadi pilihan anak anak muda, seperti saat ia, Rahman Tolleng, Rachmat Witoelar bergabung ke partai yang semula untuk menampung kaum teknokrat, aparat negara dan kaum profesional.(bwo)
Load more