- pixabay
Rupiah Melesat! Kebijakan Tarif AS Bikin Pasar Keuangan Bergejolak
Jakarta, tvOnenews.com – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS di tengah meningkatnya kekhawatiran global atas kebijakan tarif baru yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.
Penguatan ini sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan retaliasi dari berbagai negara terhadap kebijakan proteksionis AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pelemahan dolar AS menjadi faktor utama yang mendorong apresiasi rupiah. "Rupiah diperkirakan akan terus menguat seiring dengan meningkatnya kecemasan negara-negara atas dampak tarif yang diterapkan AS, yang berpotensi menyeret ekonomi Negeri Paman Sam ke dalam resesi," ujarnya kepada tvonenews.com, Jumat (4/4/2025).
Negara-Negara Siap Balas AS
Kebijakan tarif AS yang diumumkan Presiden Donald Trump telah memicu reaksi keras dari berbagai negara. Kanada, melalui Perdana Menteri Mark Carney, menyatakan siap melawan kebijakan tersebut dan akan memperkuat ekonominya di antara negara-negara G7. Meskipun Kanada berhasil menghindari tarif 10 persen dalam Perjanjian USMCA, beberapa barang lain tetap dikenakan bea masuk hingga 25 persen.
Selain Kanada, Uni Eropa (UE) juga bersiap melakukan tindakan balasan. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan paket pertama sanksi untuk merespons tarif baja yang diberlakukan AS. Bahkan, UE tidak menutup kemungkinan untuk mengambil langkah tambahan guna melindungi kepentingan bisnisnya.
Di sisi lain, China juga bereaksi keras dengan menyatakan bahwa mereka akan "mengambil tindakan balasan yang tegas" terhadap kebijakan tarif Trump. Negeri Tirai Bambu menghadapi tambahan tarif hingga 34 persen, di luar bea masuk 20 persen yang sebelumnya telah diberlakukan.
Dampak Terhadap Rupiah dan Ekonomi Indonesia
Meski berbagai negara menunjukkan perlawanan, Indonesia kemungkinan besar tidak akan mengambil tindakan serupa. Lukman menilai bahwa pemerintah Indonesia lebih baik mengambil langkah negosiasi dan bersikap "wait and see" terhadap perkembangan global ini.
"Ekonomi Indonesia masih tergolong kecil dalam konteks perdagangan dunia, sehingga retaliasi bukanlah pilihan terbaik. Lebih baik pemerintah fokus pada diplomasi ekonomi untuk menghindari dampak negatif kebijakan ini," ungkap Lukman.
Sementara itu, dolar AS juga melemah akibat data sektor jasa dari Institute for Supply Management (ISM) yang lebih lemah dari perkiraan. Hal ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang semakin tertekan oleh kebijakan proteksionis Trump.
Pergerakan Rupiah
Dengan berbagai faktor global yang mempengaruhi, rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.600 hingga Rp16.800 per dolar AS. Pada perdagangan Jumat pagi (4/4/2025), nilai tukar rupiah dibuka menguat sebesar 93 poin atau 0,55 persen ke level Rp16.653 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.746 per dolar AS.
Ketidakpastian kebijakan dagang AS dan ancaman retaliasi dari negara-negara lain diprediksi akan terus memengaruhi pasar keuangan global. Investor pun diharapkan tetap waspada menghadapi potensi volatilitas yang tinggi dalam beberapa waktu ke depan. (ant/nsp)