- Antara
Super Flu Jadi Perbincangan Awal 2026, Ini Penjelasan Lengkap Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya Tanpa Panik
Jakarta, tvOnenews.com - Awal tahun 2026 dibuka dengan meningkatnya kewaspadaan publik terhadap isu Super Flu yang ramai diperbincangkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi telah terdeteksinya virus influenza A H3N2 subclade K di Tanah Air. Hingga awal Januari 2026, tercatat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi.
Meski istilah “super flu” terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa masyarakat perlu bersikap waspada tanpa panik, dengan memahami apa sebenarnya super flu, bagaimana penularannya, serta langkah tepat untuk mengatasinya.
Apa Itu Super Flu?
Super flu sejatinya bukan istilah medis resmi. Penyakit ini merujuk pada influenza A H3N2 subclade K, turunan dari virus H3N2 yang sudah lama dikenal dunia medis. Varian ini menjadi sorotan karena dikaitkan dengan lonjakan kasus flu di sejumlah negara seperti Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat sejak Oktober 2025.
Dokter spesialis anak konsultan paru dari IDAI, dr Nastiti Kaswandani, menjelaskan bahwa istilah super flu muncul karena daya tular virus yang relatif cepat, bukan karena tingkat keganasan yang terbukti lebih tinggi dibanding influenza lainnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat virus H3N2 subclade K telah mengalami setidaknya tujuh kali mutasi dan kini mendominasi sirkulasi influenza di sejumlah negara belahan bumi utara.
Mengapa Super Flu Jadi Perhatian Dunia?
Data global menunjukkan tren peningkatan signifikan. Di Amerika Serikat, per 30 Desember 2025, aktivitas influenza berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian, meningkat drastis dari pekan sebelumnya. Jumlah pasien rawat inap melonjak menjadi 19.053 orang, hampir dua kali lipat dari minggu sebelumnya.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) juga memperkirakan sekitar 3.100 kematian akibat influenza pada musim flu kali ini, dengan mayoritas disebabkan virus H3N2.
Meski demikian, pakar epidemiologi dan paru Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa kondisi saat ini belum mengarah ke pandemi global.
Penyebab dan Cara Penularan
Virus influenza A H3N2 subclade K menular dengan cara yang sama seperti flu pada umumnya, yaitu melalui:
-
Percikan droplet saat batuk, bersin, atau berbicara
-
Kontak dengan permukaan yang terkontaminasi virus
-
Penularan sebelum gejala muncul, terutama pada orang dewasa dengan gejala ringan
Inilah yang membuat penyebaran virus sulit dikendalikan, karena banyak orang tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi.
Gejala Super Flu yang Perlu Diwaspadai
Gejala super flu umumnya mirip dengan influenza A lainnya, antara lain:
-
Demam tinggi mendadak
-
Menggigil dan nyeri otot
-
Sakit kepala
-
Pilek dan hidung tersumbat
-
Sakit tenggorokan
-
Lemas dan kelelahan
Pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita komorbid, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah, gejala bisa berkembang lebih berat dan perlu pemantauan ketat.
Cara Mengatasi dan Mencegah Super Flu
Jika mengalami gejala flu, langkah awal yang dianjurkan adalah:
-
Istirahat cukup dan jaga kondisi tubuh
-
Gunakan masker untuk mencegah penularan
-
Minum air putih dan konsumsi makanan bergizi
-
Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda bahaya seperti:
-
Demam tinggi tidak turun
-
Sesak napas
-
Kejang
-
Penurunan kesadaran
-
Bibir atau ujung jari membiru
Vaksinasi influenza juga tetap relevan dan dianjurkan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi. Karena virus influenza cepat bermutasi, vaksin memang perlu diulang setiap tahun sesuai rekomendasi global.
Jika Panik, Harus Apa?
Para ahli sepakat, panik justru memperburuk situasi. Yang perlu dilakukan masyarakat adalah:
-
Mengikuti informasi resmi dari Kementerian Kesehatan dan WHO
-
Tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi
-
Melaporkan jika terjadi kluster gejala flu berat di lingkungan rumah, sekolah, atau kantor
-
Menjaga kesehatan diri dan keluarga secara konsisten
Prof Tjandra menegaskan, super flu saat ini diperkirakan hanya akan menyebabkan gelombang flu yang lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya, bukan pandemi.
Dengan pemahaman yang benar, kewaspadaan yang proporsional, serta penerapan gaya hidup sehat, masyarakat diharapkan mampu menghadapi isu super flu secara tenang dan rasional. (nsp)