news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kediaman Rani Afriani (30), seorang ibu rumah tangga di Petamburan, Jakarta Pusat, yang bayinya masuk rumah sakit akibat terkena gas air mata..
Sumber :
  • tvOnenews.com/Rika Pangesti

Tangis Bayi di Kepungan Gas Air Mata, Warga Petamburan Selalu Jadi Korban Ricuh Demo DPR

Bentrok antara massa aksi unjuk rasa dengan aparat di sekitar Gedung DPR RI, Jakarta menyisakan duka bagi warga sipil.
Sabtu, 20 September 2025 - 04:45 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Bentrok antara massa aksi unjuk rasa dengan aparat di sekitar Gedung DPR RI, Jakarta menyisakan duka bagi warga sipil.

Di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, seorang nenek, serta dua anak kecil; balita dan bayi menjadi korban paparan gas air mata.

Mereka bahkan harus dirawat di rumah sakit karena mengalami gangguan pernapasan.

Tim tvOnenews.com mendatangi langsung kediaman satu keluarga yang menjadi korban tembakan gas air mata itu. 

Rani Afriani (30), seorang ibu rumah tangga di RT 010, RW 07, Kelurahan Petamburan-lokasi yang biasa menjadi tempat pelarian pendemo-masih mengingat jelas malam penuh kepanikan itu.

Saat gas air mata ditembakkan ke arah permukiman, keluarganya yang sedang beristirahat langsung sesak napas.

Suara tangis bayi dan batuk balita menggema di gang sempit Petamburan, Jakarta Pusat, tepatnya di pinggir rel kereta api jalur Tanah Abang-Rangkasbitung.

“Anak-anak lagi tidur, tiba-tiba asap masuk. Panas badannya, batuk, sampai napasnya bunyi ngik-ngik. Semua kena, bahkan neneknya juga,” tutur Rani saat ditemui tvOnenews.com di kediamananya, Jumat (19/9).

Bayi dan Balita Dilarikan ke RS

Balita Rani harus dirawat di Rumah Sakit Bhakti Mulia selama lima hari akibat terdapat bakteri di paru-parunya, sehingga mengalami gangguan pernapasan.

"Yang balita rewel bilang sakit, perih matanya, hidungnya, enggak bisa nafas, badannya panas. Sampai sekarang batuknya masih," ungkapnya.

Sementara, bayinya sempat demam tinggi hingga dibawa ke bidan terdekat. Bayi perempuan bernama Safira itu kini harus menjalani terapi uap tiga kali sehari.

"Kalau nggak uap, langsung sesak. Biayanya lumayan, sampai Rp300 ribu,” ucap Rani.

Suaranya sempat hilang, batuk tak kunjung reda, dan biaya pengobatan menembus ratusan ribu rupiah.

“Malam itu panik. AC nggak membantu, asap makin pekat. Kalau nggak cepat dibawa, mungkin lebih parah,” tambahnya.


Suasana wilayah RW 07, Kelurahan Petamburan, Jakarta Pusat yang kerap jadi jalur pelarian massa aksi unjuk rasa yang ricuh di depan Gedung DPR RI. (Foto: tvOnenews.com/Rika Pangesti)

Warga Trauma, Selalu Jadi Korban

Tak hanya keluarga Rani, banyak warga Petamburan lainnya merasakan hal sama. Gas air mata kerap masuk hingga ke rumah-rumah.

Ada yang terpaksa mengungsi ke mushola, ke rumah warga di RT sebelah, ada pula yang pasrah di dalam rumah dengan mata perih dan sesak.

“Kami bukan bagian demo, tapi selalu jadi korban. Kalau ada kabar demo, langsung was-was. Trauma, apalagi anak-anak,” kata Rani.

Bagi warga Petamburan, setiap ricuh di DPR berarti ancaman baru. Bukan hanya kaca pecah atau jalan rusak, tapi juga kesehatan anak-anak kecil yang harus menanggung dampak paling berat dari konflik yang tak mereka mengerti.

Oleh karenanya, warga berharap agar pendemo tak lagi menjadikan wilayahnya, Petamburan, sebagai tempat persembunyiannya saat dikejar polisi.

Kepada polisi, warga juga berharap agar lebih memperhatikan kesehatan masyarakat yang bukan pendemo, terutama kesehatan bayi, balita dan lansia.

"Pak Polisi jangan nembakin gas air mata ke sini lagi, apalagi pakai drone kemarin, dari dalam rumah udah sangat terasa perihnya, ada bayi dan lansia di dalam rumah. Kita serba salah, keluar udah ricuh lautan manusia dan perih gas air mata. Tapi di dalam juga khawatir kenapa-kenapa nggak ada yang tahu," tandas Rani. (rpi/dpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:05
01:27
12:44
15:36
06:26
05:03

Viral