news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Suasana di Wilayah permukiman padat penduduk, Pejompongan dan Petamburan, Jakarta Pusat, yang kerap jadi jalur pelarian massa aksi unjuk rasa, Jumat (19/9)..
Sumber :
  • tvOnenews.com/Rika Pangesti

Kisah Warga Petamburan Bertahan Saat Tempat Tinggal Jadi Jalur Pelarian Massa Aksi Unjuk Rasa: Rumah Diselimuti Gas Air Mata

Wilayah Pejompongan dan Petamburan, Jakarta Pusat kerap kali menjadi tempat pelarian massa aksi yang dipukul mundur aparat usai berdemonstrasi di Gedung DPR/MPR RI.
Sabtu, 20 September 2025 - 01:45 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Wilayah Pejompongan dan Petamburan, Jakarta Pusat kerap kali menjadi tempat pelarian massa aksi yang dipukul mundur aparat usai berdemonstrasi di Gedung DPR/MPR RI.

Tak jarang, polisi mengejar para pendemo hingga ke permukiman warga di Pejompongan dan Petamburan, tepatnya di pinggir rel kereta api jalur Tanah Abang - Rangkasbitung.

Bagi warga Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, ricuhnya aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI bukan sekadar tontonan di televisi.

Kawasan padat penduduk itu hampir selalu menjadi jalur pelarian massa aksi setiap kali kerusuhan pecah.

Akibatnya, rumah-rumah warga kerap diselimuti asap gas air mata. Keluhan pun terus muncul.

“Perih banget, sampai nggak bisa napas,” kata seorang warga.

Salah satunya Nuriam (54), seorang ibu rumah tangga di RW 07 Kelurahan Petamburan. Ia masih ingat jelas malam ketika rumahnya digedor massa, lalu gas air mata menyeruak dari pintu belakang.

Malam itu, langit Petamburan, Jakarta Pusat dipenuhi asap. Suara sirene bercampur teriakan massa, dentuman gas air mata, dan langkah ribuan kaki yang berlarian tak tentu arah.

Di tengah hiruk pikuk itu, Nuriam (54) hanya bisa menggenggam erat pintu rumahnya yang digedor keras.

“Buka! Buka! Tolong! Tolong!” begitu suara dari luar.

Ia baru saja selesai salat Magrib, hendak mengunci pintu, ketika gedoran itu membuat tubuhnya gemetar.

Ketua RW berteriak dari kejauhan “Jangan ada yang tetap di dalam, keluar lewat belakang!”

Namun, pintu belakang justru sudah diselimuti asap gas air mata. Mata perih, napas sesak.

“Saya mah di belakang sini udah dibom semua sama gas air mata. Ngeri banget,” kenang Nuriam.

Bukan hanya dirinya, anak lelakinya yang kala itu masih duduk di bangku SMA juga terjebak. Ia berusaha pulang dari mushola, tapi jalan sudah dipenuhi massa dan aparat.

“Dia lari-lari, mau pulang, eh ternyata udah kepung juga. Akhirnya sesak napas, sampai harus dikasih oksigen,” kata Nuriam, matanya menerawang.

Malam itu, rumah-rumah warga tak ubahnya lorong pelarian. Pendemo berlari mencari tempat sembunyi, aparat melemparkan gas air mata, dan warga sipil yang sebenarnya bukan bagian dari aksi, menjadi korbannya.

“Saya takut banget. Lautan manusia lari ke segala arah, ada yang berdarah-darah, ada yang jatuh. Rasanya kayak nggak bisa nolong siapa-siapa, cuma bisa selamatin diri,” tambahnya.


Suasana di Wilayah permukiman padat penduduk, Pejompongan dan Petamburan, Jakarta Pusat, yang kerap jadi jalur pelarian massa aksi unjuk rasa, Jumat (19/9). (Foto: tvOnenews.com/Rika Pangesti)

Para Warga Terpaksa Mengungsi

Sejak peristiwa itu, Nuriam memilih mengungsi setiap kali ada kabar demo besar. Bersama lansia, ibu-ibu, hingga bayi, mereka mencari perlindungan di rumah-rumah warga lain yang dianggap aman.

“Saya ngeri kalau inget itu. Makanya sebelum ada apa-apa, saya milih ngungsi dulu,” kata Nuriam.

Bukan hanya udara yang membuat mereka tercekik. Makanan pun sempat menjadi persoalan. Warung-warung tutup, akses jalan diblokir, warga hanya bisa bertahan dengan stok seadanya.

“Saya sempat ngungsi tanpa siap apa-apa. Masakan di rumah nggak bisa diambil, warteg tutup, warung tutup. Malem-malem cari makan pun susah,” ceritanya.

Momen itu membuatnya berharap ada perhatian lebih: posko pengungsian, dapur umum, atau sekadar bantuan makanan untuk warga yang terjebak.

"Kita sih berharapnya kalau ada aksi kerusuhan begitu, kita yang terjebak dan dikepung ini dikasih bantuan makan nasi, karena emang susah cari makan dan kondisi tidak memungkinkan," katanya.

Harapan Sederhana

Di tengah rasa takut yang masih membekas, Nuriam hanya ingin kedamaian. Harapannya sederhana: tidak ada lagi bentrokan yang membuat rakyat kecil jadi korban.

“Harapannya, ya jangan ada demo-demo lagi. Kalau memang ada tuntutan mahasiswa atau masyarakat, dipenuhin aja, biar nggak berlarut-larut. Jangan sampai rakyat yang nggak tahu apa-apa ikut kena imbas," ujarnya.

Meski begitu, ia sadar, sebagai warga kecil dirinya hanya bisa pasrah. Setiap kali kabar aksi kembali terdengar, jantungnya berdegup kencang.

Kenangan gas air mata dan kepungan massa seakan belum pernah benar-benar pergi. (rpi/dpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:05
01:27
12:44
15:36
06:26
05:03

Viral