Jangan Anggap Sepele Wudhu, Ustaz Adi Hidayat Tegaskan Penentu Sah Tidaknya Shalat
- Ilustrasi AI
tvOnenews.com - Banyak orang berusaha memperindah shalatnya dengan bacaan yang panjang, gerakan yang tenang, bahkan hingga meneteskan air mata karena khusyuk.Â
Namun, menurut Ustaz Adi Hidayat (UAH), semua itu bisa menjadi sia-sia jika satu perkara mendasar diabaikan: wudhu yang benar dan sempurna.
Dalam sebuah kajian yang disampaikan Ustaz Adi Hidayat, beliau mengulas secara mendalam bagaimana Al-Quran dan hadis menempatkan wudhu sebagai fondasi utama shalat.Â
Tanpa wudhu yang sah dan sempurna, shalat seseorang tidak akan bernilai di sisi Allah SWT.

- iStockPhoto/Africalmages
Perintah Wudhu sebagai Awal Shalat yang Sempurna
Ustaz Adi Hidayat memulai penjelasannya dengan menguraikan ayat Al-Quran yang secara tegas membahas wudhu, yakni QS. Al-Maidah ayat 6.Â
Ayat ini menunjukkan bahwa sebelum seorang hamba berdiri menghadap Allah dalam shalat, ada proses penyucian diri yang wajib dilakukan.
"Hai orang-orang yang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah SWT, jika Anda ingin menunaikan shalat dengan sempurna, maka mulailah berwudhu dengan membasuh yang pokok. Basuh wajah," terang Ustaz Adi Hidayat.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa redaksi ayat tersebut memberi pemahaman kuat bahwa sholat yang sempurna harus diawali dengan wudhu. Artinya, wudhu bukan sekadar pelengkap, tetapi syarat mutlak sebelum sholat.
"Jadi kalau ada seseorang yang memulai shalat tanpa berwudhu, maka shalatnya tidak sah, tidak sempurna," ucap Ustaz Adi Hidayat.
Penegasan ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam hadits sahih.
Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:
"Tidak akan diterima shalatnya orang yang punya hadats sampai dia berwudhu" (HR. Al Bukhari 135).
Ustaz Adi Hidayat kemudian menegaskan bahwa kekhusyukan tanpa wudhu tidak memiliki nilai ibadah.
"Jadi kalau Antum shalat khusyu sampai menangis, bacaannya panjang, tapi tidak punya wudhu, gak akan diterima," ujarnya.
Tidak Cukup Berwudhu, Harus Disempurnakan
Menurut Ustaz Adi Hidayat, masalah tidak berhenti pada sekadar berwudhu atau tidak. Lebih dari itu, wudhu harus dilakukan dengan sempurna, sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
"Yang kedua, tidak cukup berwudhu saja tapi harus sempurna wudhunya," lanjutnya.
UAH kemudian mengisahkan sebuah peristiwa yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA.Â
Pada masa Rasulullah SAW, ada seorang laki-laki yang berwudhu dengan tergesa-gesa hingga menyisakan bagian kecil di kakinya, hanya seujung kuku yang tidak terkena air.
Ketika Rasulullah SAW melihat hal tersebut, beliau langsung menegurnya dan memerintahkan agar wudhunya diulang dan disempurnakan.
Nabi SAW berkata kepada orang itu:
"Kamu balik lagi, ulangi lagi wudhunya, sempurnakan".
Kisah ini menunjukkan bahwa kesempurnaan wudhu adalah perkara serius yang tidak bisa ditawar.
Kesalahan Wudhu Berdampak pada Shalat
Dalam riwayat lain, Ustaz Adi Hidayat menceritakan kisah seorang laki-laki yang shalat di Masjid Nabawi di samping Rasulullah SAW.Â
Setelah selesai shalat dan mengucapkan salam, Nabi SAW justru menyuruhnya mengulang shalatnya.
Rasulullah SAW berkata:
"Anda shalat lagi, karena Anda belum shalat".
Perintah ini diulang hingga tiga kali, dan setiap kali sholat, Nabi SAW tetap mengatakan hal yang sama. Hingga akhirnya orang tersebut mengakui keterbatasannya dan memohon bimbingan.
Ia berkata:
"Ya Rasulullah saya tidak bisa lebih baik lagi daripada ini. Tolong ajarkan saya"
Maka Rasulullah SAW bersabda:
"Kalau kamu ingin shalatnya sempurna, maka cepat sempurnakan dulu wudhunya (Nabi SAW mengajarkan cara wudhu yang benar)"
Menurut para ahli hadis, jika kesalahan hanya terletak pada gerakan shalat, tentu Rasulullah SAW akan langsung memperbaiki tata cara shalatnya.Â
Namun karena Nabi SAW memulai penjelasan dari wudhu, hal ini menunjukkan bahwa akar masalahnya ada pada wudhu yang tidak sempurna.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa wudhu yang asal-asalan akan berdampak langsung pada kualitas shalat.Â
Jika wudhunya tergesa-gesa, maka shalatnya pun cenderung dilakukan dengan terburu-buru.

- Pexels/Alperen Bozkurt
Menyebut Nama Allah saat Memulai Wudhu
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa shalat dan wudhu memiliki keterkaitan yang sangat erat.
Nabi SAW bersabda:
"Tidak ada shalat bagi orang yang tidak punya wudhu. Dan tidak diterima wudhu seseorang (tidak sempurna) bagi yang tidak menyebut nama Allah SWT".
Ustaz Adi Hidayat kembali menegaskan konsekuensi dari meninggalkan wudhu.
"Jadi kalau Anda tidak wudhu kemudian shalat, shalat Anda tidak diterima," ujar Ustaz Adi Hidayat.
Lebih jauh, Ustaz Adi Hidayat juga menjelaskan bahwa wudhu tidak dimulai dari membasuh anggota tubuh, melainkan diawali dengan menyebut nama Allah SWT.
Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah: kapan menyebut nama Allah dalam wudhu?
Jawabannya dijelaskan melalui hadis yang diriwayatkan oleh pembantu sahabat Utsman bin Affan RA.Â
Dalam hadis tersebut, Utsman bin Affan mengajarkan tata cara wudhu dengan memulai basuhan tangan sambil mengucapkan basmalah.
Disebutkan bahwa beliau membaca:
'Bismillahirrahmanirrahim' atau paling singkat cukup dengan 'Bismillah'.
Wudhu sebagai Pondasi Ibadah
Dari penjelasan Ustaz Adi Hidayat ini, dapat dipahami bahwa wudhu bukan sekadar rutinitas sebelum shalat, tetapi pondasi utama yang menentukan sah atau tidaknya ibadah. Kesempurnaan shalat sangat bergantung pada kesempurnaan wudhu.
Maka, sebelum memperindah bacaan dan memperlama gerakan shalat, setiap Muslim seharusnya memastikan bahwa wudhunya telah dilakukan dengan benar, tenang, dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Sebab dari wudhu yang benar, lahirlah shalat yang diterima dan bernilai di sisi Allah SWT. (gwn)
Load more