Esensi Mudik dalam Islam, Ustaz Adi Hidayat: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung
- Tangkapan Layar/YouTube Adi Hidayat Official
tvOnenews.com - Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam ceramahnya membagikan esensi serta pesan mendalam dari tradisi mudik Lebaran yang biasanya dilakukan mulai pertengahan bulan Ramadhan seperti saat ini.
Mudik merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh banyak masyarakat Muslim, terutama di Indonesia. Momen ini biasanya bertepatan dengan bulan Ramadan atau menjelang Idul Fitri, di mana orang-orang kembali ke kampung halaman untuk bertemu keluarga dan sanak saudara. Namun, dalam perspektif Islam, mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung. Lebih dari itu, ada nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seperti silaturahmi, birrul walidain (berbakti kepada orang tua), serta mempererat ukhuwah Islamiyah.
Bahkan Ustaz Adi Hidayat mengingatkan mudik memberi pesan mendalam bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT, suatu hari nanti. Hal ini sebagaimana arti dari mudik itu sendiri jika didefiniskan dalam bahasa Arab yang artinya adalah kembali ke tempat asal yang disebut terukur.
“Dan diderivasikan dari kata ada, ada yaudu ida adalah mudik kembali ke tempat asal,” kata UAH sebagaimana dikutip tvOnenews.com pada Sabtu (15/3/2025) dari Kanal YouTube Adi Hidayat Official.
Oleh karena itu, setiap muslim haruslah ingat bahwa tempat berpulang kita sejatinya adalah ketika kembali kepada Allah subhanahu wa Ta'Ala.
“Disebut oleh Alquran dengan kata ma'ad tempatnya ada yaudu edan tempatnya,” kata UAH.
Dalam suasana mudik lebaran yang menjadi tradisi setiap tahunnya, orang-orang kerap menyiapkan bekal terbaik untuk pulang.
“Maka ini memberikan kesan kepada kita untuk belajar bahwa untuk bekal pulang level dunia saja kita menyiapkannya dengan serius sungguh-sungguh maka bagaimana dengan kampung akhirat kita yang sesungguhnya itu tempat sejati dan abadi kita untuk berpulang?,” ujar UAH.
Semua dari kita nantinya akan pulang mudik kembali ke asal mula kita diciptakan.
“Mudik kembali ke kampung akhirat, mudik untuk berjumpa menghadap Sang pencipta Allah subhanahu wa ta'ala,” kata UAH.
Sementara, dari kemacetan yang terjadi selama mudik, sejati mengingatkan kita akan antrean manusia saat yaumul hisab.
“Dari situasi mudik ini kalau sekarang ada kemacetan sekarang ada kesulitan di perjalanan ada keringat perlu lelah mengantre dan lain sebagainya maka di akhirat nanti bukan hanya drama lagi tapi segala yang sejati sungguh terjadi.
“Kepadatan kepenatan menunggu hisab antrean saat kita mudik berpulang keharibaan Allah subhanahu wa ta'ala, persoalan terbesar apakah bekal kita cukup?” tanya UAH.
Maka, seperti layaknya mudik di dunia, Ustaz Adi Hidayat mengingatkan setiap muslim untuk lebih serius mempersiapkan bekal untuk mudik ke akhirat.
“Agar nanti rumah kita insya Allah di surga tertata rapi indah dan kita disambut oleh para malaikat, karena dengan bekal yang terbaik itu ada janji kenikmatan paripurna yang bisa kita rasakan,” pesan UAH.
“Malaikat datang menyambut di setiap titian pintu surga dan mengatakan selamat Anda sabar dalam mencari bekal untuk pulang sekarang,” tambahnya.
Jika bekal di dunia cukup, maka nanti silakan menikmati tempat terindah.
“Silakan nikmati tempat terindah yang telah disajikan dan belum pernah dijamah oleh makhluk Allah manapun yang pernah berkehidupan Qur'an surah ke-13 arradu di ayat ke-24,” ujar UAH.
Itulah pesan mendalam dari Ustaz Adi Hidayat tentang mudik dimana tradisi setiap Lebaran ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju kampung halaman, tetapi juga perjalanan spiritual yang penuh makna. Di dalamnya terkandung ajaran Islam yang sangat mulia, seperti menjaga silaturahmi, berbakti kepada orang tua, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta memperkuat nilai-nilai keimanan.
Bahkan mudik mengingatkan setiap manusia bahwa kita semua akan kembali kepada Allah SWT yang tentu harus mempersiapkan segalanya dengan baik sebagai bekal. Oleh karena itu, mari jadikan mudik sebagai sarana untuk mendapatkan keberkahan, bukan hanya sekadar tradisi pulang kampung, tetapi juga bentuk ibadah yang mendatangkan ridha Allah SWT.
Wallahu'alam bishawab
(put)
Load more