Benarkah Minum Jus Terlalu Sering Bisa Sebabkan Kenaikan Berat Badan dan Risiko Diabetes? Begini Penjelasan Dokter!
- pexels.com
tvOnenews.com - Banyak orang beranggapan bahwa jus buah adalah pilihan sehat untuk menjaga tubuh tetap segar dan bugar.
Namun, siapa sangka, di balik rasanya yang manis dan menyegarkan, kebiasaan minum jus terlalu sering justru bisa menjadi penyebab naiknya berat badan dan risiko diabetes.
Dalam tayangan di kanal YouTube Good Talk TV, dr. Hans Tandra, menjelaskan bahwa minuman jus, terutama yang tidak lagi mengandung serat alami dari buah, bisa menimbulkan lonjakan gula darah yang cepat dan berdampak buruk bagi metabolisme tubuh.
“Ya, kita takut kena diabet, kita tidak suka jadi orang gemuk. Tentu saja banyak orang menganjurkan, ayo jangan makan berlebihan. Minum ini aja, minum jus. Tapi begitu dijadikan jus, semua minuman itu kehilangan fiber,” ujar dr. Hans Tandra.
Menurutnya, serat memiliki peranan penting dalam menjaga stabilitas kadar gula darah dan menunda rasa lapar.
Ketika seseorang mengonsumsi buah utuh, tubuh memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna serat yang terkandung di dalamnya.
Proses pencernaan yang lambat ini membantu menahan lonjakan gula darah dan menjaga keseimbangan energi.
Sebaliknya, ketika buah diolah menjadi jus, sebagian besar seratnya hilang.
Tanpa serat, gula alami dalam buah yang dikenal sebagai fruktosa akan langsung terserap dengan cepat ke dalam darah.
"Betapa pentingnya fiber itu. Begitu makanan berserat, apalagi yang kasar seperti buah dan sayur, masuk dalam perut, proses mencernanya jadi lama, menyerapnya juga lambat. Tapi kalau dijadikan jus, airnya langsung diserap karena tidak perlu lagi pencernaan yang lama. Akibatnya naiknya gula dan kalori jadi cepat,” jelas dr. Hans.
Kondisi ini menyebabkan tubuh mengalami glucose spike atau lonjakan kadar gula darah secara tiba-tiba.
Dalam jangka panjang, kebiasaan seperti ini dapat menyebabkan resistensi insulin, yaitu kondisi di mana tubuh tidak lagi merespons hormon insulin secara efektif.
Resistensi insulin inilah yang menjadi awal mula diabetes tipe 2.
"Orang yang kebiasaan minum jus gampang gemuk, sugar rush, glucose spike, bahkan insulin kalang kabut. Itu cepat menyebabkan insulin resistan, tidak baik, gampang gemuk dan gampang kena gula,” tambahnya.
Selain berisiko pada kadar gula darah, jus buah juga dapat menambah asupan kalori tersembunyi.
Banyak orang tidak sadar bahwa segelas jus bisa mengandung kalori setara dengan dua hingga tiga porsi buah utuh.
Jika ditambah dengan gula tambahan atau susu kental manis seperti pada jus-jus kekinian, maka kandungan kalorinya bisa meningkat drastis.
Misalnya, jus mangga atau alpukat yang ditambah gula cair dan topping cokelat bisa mencapai 300-400 kalori per gelas.
Jika dikonsumsi setiap hari tanpa disertai aktivitas fisik yang cukup, maka kenaikan berat badan tak bisa dihindari.
dr. Hans menyarankan agar masyarakat tidak sepenuhnya menjauhi jus, tetapi mengonsumsinya dengan bijak.
Jus boleh diminum sesekali, namun bukan sebagai pengganti makanan utama atau kebiasaan harian.
“Bolehkah kita minum jus? Boleh, tapi jangan banyak dan jangan jadi kebiasaan. Sekali-kali minum jus, tapi tetap makan buah utuh dan sayur utuh,” sarannya.
Ia juga menegaskan bahwa makan buah dan sayur secara langsung jauh lebih menyehatkan dibandingkan jus.
Buah utuh mengandung kombinasi sempurna antara air, vitamin, mineral, dan serat alami yang membantu proses metabolisme dan pencernaan bekerja dengan optimal.
"Jadikan sayur dalam tiap kali makan, jadikan buah dalam tiap kali cemilan. Berat badan Anda bisa turun, bahkan gula semakin gampang dikendalikan,” ujarnya.
Selain itu, dr. Hans mengingatkan agar masyarakat lebih waspada terhadap jus kemasan yang banyak dijual di pasaran.
Meskipun diklaim “alami” atau “tanpa pengawet”, sebagian besar jus dalam botol atau kotak telah melalui proses pemanasan dan mengandung gula tambahan yang bisa memperparah risiko obesitas dan diabetes. (adk)
Load more