Alih-alih Naik, IHSG 'Kebakaran' Meski Menkeu Purbaya Optimistis Bakal Menguat
- tvOnenews.com/Syifa Aulia
Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) justru melemah tajam pada perdagangan Senin (2/2/2026), bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya optimistis pasar saham akan membaik dan bergerak naik.
IHSG dibuka turun 70,36 poin atau 0,84 persen ke level 8.259,25. Tekanan jual yang kuat membuat indeks bergerak di zona merah sejak awal sesi, meski indeks saham unggulan LQ45 masih mampu menguat tipis 0,91 poin atau 0,11 persen ke posisi 834,44.
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena hanya dua hari sebelumnya, Purbaya menyampaikan keyakinannya bahwa IHSG akan bangkit dan tidak mengalami gejolak berarti.
“Pasti naik lah, pasti naik. Enggak (kebakaran), pasti naik,” ujar Purbaya di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Sabtu (31/1/2026). Ia menilai ruang penguatan pasar saham masih terbuka lebar seiring siklus bisnis yang bergerak naik turun dari titik terendah ke puncak.
Optimisme Pemerintah Tak Sejalan dengan Pasar
Dalam pernyataannya, Purbaya juga meminta investor tidak khawatir terhadap kondisi pasar pasca-mundurnya Direktur Utama BEI dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia menegaskan sistem di pasar modal Indonesia tetap berjalan baik karena telah ada penunjukan pejabat sementara untuk mengisi kekosongan.
“Kenapa orang takut? Mereka takut adanya kekacauan di manajemen bursa ketika pimpinan mundur. Padahal itu berjalan dengan baik,” kata Purbaya.
Ia bahkan menekankan fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan pertumbuhan ekonomi 2026 diyakini dapat mencapai 6 persen. Dengan kondisi tersebut, menurutnya, pasar saham seharusnya berada dalam tren positif.
Namun, realitas pasar pada Senin pagi menunjukkan arah yang berbeda. IHSG justru melanjutkan pelemahan di tengah sentimen wait and see investor, khususnya investor asing.
Investor Tunggu Kepastian dan Reformasi Pasar
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai pelemahan IHSG dipengaruhi sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menunggu perkembangan terbaru di sektor pasar modal, termasuk hasil pertemuan otoritas Indonesia dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Secara teknikal, IHSG diperkirakan cenderung konsolidasi di kisaran 8.150 hingga 8.600 pada pekan ini. Jika mampu bertahan di atas 8.600, ada peluang rebound,” ujar Ratna.
Ia menambahkan, pasar juga masih mencermati dampak mundurnya sejumlah pejabat otoritas pasar modal serta langkah-langkah lanjutan pemerintah dalam melakukan reformasi tata kelola sektor keuangan.
Langkah cepat pemerintah yang menunjuk pejabat sementara di OJK dan BEI memang dinilai mampu meredakan sebagian kekhawatiran, namun investor tetap menunggu implementasi kebijakan yang lebih konkret.
Data Ekonomi Jadi Penentu Arah Pasar
Selain faktor domestik, pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh rilis sejumlah data ekonomi yang dinilai krusial sepanjang pekan ini. Investor akan mencermati indikator seperti indeks PMI manufaktur, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, hingga indeks harga properti.
Dari luar negeri, pasar global dibayangi rilis data tenaga kerja Amerika Serikat serta indeks PMI AS. Selain itu, kelanjutan musim laporan keuangan emiten teknologi dan sektor kecerdasan buatan (AI) di Negeri Paman Sam turut memengaruhi sentimen investor di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Bursa Global Bergerak Beragam
Pada perdagangan Jumat (30/1/2026) pekan lalu, bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,36 persen ke level 48.892,47, indeks S&P 500 terkoreksi 0,43 persen ke posisi 6.950,30, dan indeks Nasdaq Composite melemah 1,28 persen ke 25.552,39.
Sementara itu, bursa Asia pada Senin pagi bergerak variatif. Indeks Nikkei Jepang menguat 235,90 poin atau 0,44 persen ke level 53.558,80. Indeks Shanghai turun 20,95 poin atau 0,51 persen ke 4.096,99. Indeks Hang Seng melemah 419,44 poin atau 1,53 persen ke 26.967,66. Adapun indeks Strait Times di Singapura naik 8,70 poin atau 0,18 persen ke posisi 4.913,83.
Pergerakan bursa global yang tidak solid ini turut menekan sentimen pasar domestik, sehingga IHSG belum mampu bergerak sejalan dengan optimisme pemerintah.
Kontras Pernyataan dan Realita Pasar
Perbedaan antara prediksi Purbaya dan realisasi pergerakan IHSG menunjukkan bahwa pasar saham tetap sangat sensitif terhadap sentimen global, kepastian kebijakan, serta persepsi risiko jangka pendek. Meski fundamental ekonomi dinilai kuat, pelaku pasar cenderung bersikap defensif hingga ada kepastian lebih lanjut terkait arah reformasi pasar modal dan stabilitas kebijakan keuangan nasional. (nsp)
Load more