Danantara Ungkap Alasan Restrukturisasi BUMN: Ada Tumpang Tindih-Kompetisi Sesama, Bahkan Antar Induk
- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Sleman, tvOnenews.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkap alasan di balik restrukturisasi sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Langkah tersebut dilakukan lantaran ditemukan adanya tumpang tindih dan kompetisi antar perusahaan pelat merah, bahkan di tingkat induk BUMN.
Managing Director Holding Operational Danantara, Agus Dwi Handaya mengakui, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi di internal BUMN dengan jumlah sekitar 1.045 perusahaan dalam tujuh layer.
"Setelah bekerja di Danantara, saya baru paham sebutan layer itu cucu, cicit, terdengar 3-7 layer. Jadi anaknya 338 dari 50 BUMN, cucunya ada 585, cicitnya ada 193," jelas Agus saat mengisi acara Leadership Day 2025 di GIK UGM, Selasa (11/11/2025).
"Istilahnya kalau L4 (layer 4) itu buyutnya 36, canggahnya 3, warengnya 2, udheg-udhegnya itu 2," sambungnya.
Dengan layer yang begitu banyak, Agus mengungkap dampaknya ke pengelolaan operasional yang tidak efisien dan kompetitif.
"Terjadi tumpang tindih dan kompetisi sesama BUMN, bahkan sesama BUMN dalam satu induk," ungkapnya.
Selama ini, pihaknya juga menyadari masih banyak terjadi salah satunya mismanagement. Contohnya, investasi pabrik dengan nilai puluhan triliunan tidak dilakukan dengan hati-hati dan cermat mengakibatkan proses produksi tidak efisien.
Menyadari kondisi tersebut dan beranjak mengoptimalkan peran BUMN, pemerintah membentuk Danantara.
Visi besarnya adalah menjadi sovereign wealth fund (SWF) di dunia yang terbaik dengan memberikan kontribusi signifikan bagi ekonomi Indonesia. Berbeda dibandingkan dengan SWF di negara lain.
"Biasanya secara umum SWF di negara lain adalah menginvestasikan dari kelebihan dana pemerintah. Di Indonesia, Danantara porsi terbesar dananya itu adalah hasil daripada dividennya BUMN," ucapnya.
Agus menyebut, perusahaan BUMN memiliki kontribusi yang sangat besar dalam perekonomian. Total aset BUMN mencapai Rp 10 triliun lebih dan laba sekitar Rp 300 triliun.
"Dividen yang disetorkan oleh pemerintah di tahun terakhir 2024 mencapai Rp 148 triliun di mana dalam 3 tahun terkumpul Rp 267 triliun.
Kontribusi pajaknya juga cukup signifikan Rp 458 triliun atau sekitar 20 persen dari penerimaan pajak nasional," tuturnya.
Karena itu, Danantara berkomitmen membangun BUMN yang memiliki sistem jangka panjang bukan hanya jangka pendek.
Load more