Panglima TNI Keluarkan Perintah Siaga 1, Ada Apa?
Jakarta, tvOnenews.com - Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Agus Subiyanto memerintahkan seluruh jajaran TNI untuk meningkatkan kesiapsiagaan atau siaga satu guna mengantisipasi dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Perintah tersebut tertuang dalam Telegram Panglima TNI yang ditandatangani oleh Asisten Operasi Panglima TNI Bobi Rinal Makmun pada 1 Maret 2026.
Telegram itu memuat tujuh instruksi kepada jajaran TNI untuk menyiapkan langkah-langkah strategis apabila eskalasi konflik di Timur Tengah terus meningkat.
Salah satu instruksi tersebut adalah memerintahkan para Panglima Komando Utama Operasi TNI untuk menyiagakan personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Personel TNI juga diminta melakukan patroli di berbagai objek vital strategis dan pusat perekonomian.
Objek vital yang dimaksud antara lain bandara, pelabuhan laut dan sungai, stasiun kereta api, terminal bus, hingga fasilitas penting seperti kantor perusahaan listrik negara dan infrastruktur strategis lainnya.
Selain itu, Komando Pertahanan Udara Nasional diperintahkan untuk melakukan pengamatan udara secara terus-menerus selama 24 jam guna memantau potensi ancaman.
Sementara itu, Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS TNI) diminta memerintahkan para atase pertahanan RI di negara-negara yang terdampak konflik untuk mendata dan memetakan kondisi warga negara Indonesia (WNI).
BAIS juga diminta menyiapkan rencana evakuasi apabila situasi di kawasan tersebut semakin memburuk.
BAIS TNI juga diminta berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, kedutaan besar Republik Indonesia, serta otoritas terkait sesuai dengan perkembangan situasi di Timur Tengah.
Instruksi lainnya adalah meminta Kodam Jaya meningkatkan patroli di berbagai objek vital strategis serta kawasan kedutaan besar untuk menjaga kondisi keamanan di wilayah DKI Jakarta.
Selain itu, satuan intelijen TNI diperintahkan melakukan deteksi dini dan pencegahan terhadap potensi kelompok yang memanfaatkan situasi konflik di Timur Tengah untuk mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri.
Kepala Pusat Penerangan TNI Aulia Dwi Nasrullah menjelaskan penerbitan telegram tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan tugas pokok TNI dalam melindungi bangsa dan negara.