Pandangan Analis Timteng: Israel Diduga Dorong Indonesia Keluar Dari BoP
Jakarta, tvOnenews.com - Dialog dalam program Apa Kabar Indonesia Pagi membahas dugaan motif di balik serangan terhadap pasukan perdamaian Indonesia yang tergabung dalam misi Unifil di Lebanon.
Analis Timur Tengah, Pizaro Gozali Idrus menilai serangan tersebut diduga bukan insiden acak, melainkan bagian dari strategi yang disengaja dengan mempertimbangkan posisi Indonesia yang konsisten mendukung Palestina serta menolak agresi terhadap Iran.
Indonesia disebut sebagai salah satu penyumbang pasukan terbesar dalam misi UNIFIL. Sikap politik luar negeri Indonesia yang vokal dinilai berpotensi dianggap menghambat kepentingan Israel di kawasan Timur Tengah.
Serangan terhadap pasukan Indonesia juga dipandang sebagai upaya menunjukkan superioritas militer serta mengirim pesan bahwa keberadaan pasukan perdamaian tidak menjadi penghalang operasi militer.
Pizaro juga menyebut bahwa serangan terhadap pasukan UNIFIL bukan peristiwa baru. Sejumlah kasus sebelumnya menunjukkan personel pasukan perdamaian dari berbagai negara pernah menjadi korban dalam konflik di Lebanon.
Situasi ini dinilai dapat melemahkan kredibilitas misi perdamaian dan membuka kemungkinan tekanan agar pasukan internasional, termasuk Indonesia, menarik diri dari wilayah tersebut.
Pizaro menilai terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan Indonesia. Pertama, mengangkat isu serangan terhadap pasukan perdamaian ke forum internasional agar tidak menjadi persoalan bilateral semata.
Kedua, mendorong investigasi resmi melalui Dewan Keamanan PBB untuk memastikan akuntabilitas. Ketiga, membuka kemungkinan membawa kasus tersebut ke Mahkamah Pidana Internasional guna menelusuri tanggung jawab negara maupun individu.
Dari sisi militer, keselamatan prajurit dinilai tetap menjadi prioritas utama. Namun penarikan pasukan dianggap perlu dipertimbangkan secara matang karena dapat berdampak pada posisi Indonesia dalam misi perdamaian serta kepentingan nasional yang lebih luas.
Pemerintah dinilai perlu memastikan jaminan keamanan tambahan sekaligus meningkatkan koordinasi dan prosedur operasi di lapangan.
Dalam diskusi juga muncul pandangan bahwa respons Indonesia tidak cukup hanya melalui diplomasi kecaman.
Indonesia dinilai perlu menggalang dukungan negara lain, termasuk melalui organisasi regional maupun negara-negara berkembang, untuk memberikan tekanan diplomatik maupun ekonomi.
Upaya tersebut dipandang dapat meningkatkan efek terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab atas serangan.
Selain itu, pentingnya peningkatan kewaspadaan dan penguatan prosedur keamanan bagi prajurit juga disoroti.
Penguatan intelijen, koordinasi dengan pasukan UNIFIL lainnya, serta evaluasi protokol keselamatan dinilai diperlukan untuk mencegah insiden serupa.
Pemerintah juga diharapkan merumuskan langkah berdasarkan kepentingan nasional jangka panjang, baik terkait keberlanjutan partisipasi dalam UNIFIL maupun posisi diplomasi Indonesia di kawasan.