Gibran Punya Ambisi jadi Capres, Hensa: Warning untuk Gerindra 2034
Jakarta, tvOnenews.com - Situasi global yang penuh ketidakpastian kembali menjadi sorotan dalam diskusi politik nasional, termasuk terkait arah pemerintahan dan dinamika menuju Pemilu 2029.
Dalam sebuah dialog politik, sejumlah narasumber menilai Indonesia patut bersyukur karena pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5 persen dan inflasi tetap terkendali, di tengah banyak negara lain yang mengalami kesulitan serupa.
Pembahasan kemudian mengarah pada spekulasi politik 2029, khususnya mengenai kemungkinan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka kembali maju untuk periode kedua.
Pengamat menilai dalam politik segala kemungkinan masih terbuka mengingat waktu menuju 2029 masih cukup panjang dan situasi dapat berubah tergantung stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, serta faktor geopolitik.
Beberapa pengamat melihat hubungan antara Prabowo dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo masih terjaga dengan baik. Prabowo dinilai sebagai sosok yang mampu merangkul berbagai kepentingan, termasuk pihak-pihak yang sebelumnya berada di luar koalisi pemerintahan.
Namun demikian, muncul pula narasi mengenai kemungkinan adanya skenario politik lain jika pasangan Prabowo-Gibran tidak terwujud pada 2029.
Psi dan Golkar disebut-sebut sebagai dua partai yang berpotensi menjadi jalur strategis bagi Jokowi untuk tetap memiliki pengaruh politik, mengingat kedekatan sejumlah tokoh di dalamnya.
Diskusi juga menyinggung bahwa dalam praktik politik, jarang seorang ketua umum partai kembali memilih wakil presiden dari partai lain untuk periode kedua karena pertimbangan regenerasi dan kekuatan partai ke depan, termasuk proyeksi menuju 2034.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada figur-figur lain di internal koalisi pemerintahan yang dinilai berpotensi muncul sebagai alternatif pendamping Prabowo.
Sejumlah nama kader partai politik disebut dapat menjadi pilihan jika partai-partai mulai menyiapkan calon dari internal, bukan lagi mengandalkan tokoh eksternal.
Meski demikian, para narasumber menekankan pembahasan soal 2029 masih terlalu dini. Pemerintahan saat ini dinilai perlu fokus lebih dulu pada penyelesaian program-program pembangunan dan agenda nasional di periode pertama sebelum masuk pada kalkulasi politik jangka panjang.