John Herdman Blak-blakan Soal Fakta Sepak Bola Indonesia: Tanpa Pembinaan Dini, Timnas Indonesia Sulit Bersaing
- instagram timnas indonesia
Potensi pemain muda Indonesia disebut sangat menjanjikan, terutama di daerah-daerah yang dikenal sebagai lumbung talenta.
"Anak-anak usia 9 hingga 10 tahun penting untuk masa depan bangsa Indonesia, dasar pembinaan usia dini adalah hal yang paling penting," kata Simon Tahamata di kawasan GBK.
Simon bahkan telah melakukan pemantauan langsung ke berbagai daerah seperti Papua dan Tulehu, Ambon, yang selama ini dikenal sebagai penghasil pemain berbakat.
"Di Papua banyak pemain bagus, di Tulehu, Ambon, juga banyak talenta," kata eks pemain Ajax tersebut.
Namun, ia juga menyoroti kelemahan mendasar yang masih terjadi hingga kini, yakni minimnya kompetisi terstruktur bagi pemain usia dini.
"Yang disayangkan, belum ada kompetisi yang terstruktur, anak-anak ini hanya bermain, berlatih tanpa kompetisi," ucap Simon Tahamata.
- tvOnenews/Ilham Giovani Pratama
Masukan Herdman mendapat respons positif dari Erick Thohir. Ia menyebut bahwa program pengembangan usia muda sudah sejalan dengan visi federasi, termasuk dukungan dari Direktur Teknik, Alex Zwiers.
"Kami setuju dengan yang kamu ajukan untuk mengembangkan tim usia dini."
"Saya pikir alex Zwiers setuju jadi kita akan mendukung penuh programnya," tutupnya.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan prestasi, terlebih setelah Timnas U-17 Indonesia sempat tampil di Piala Dunia U-17 2025.
Regenerasi menjadi kunci agar pencapaian tersebut tidak berhenti sebagai momen sesaat.
Dengan jadwal terdekat menghadapi FIFA Matchday Juni serta persiapan menuju ASEAN Cup 2026, kebutuhan akan pemain muda berkualitas semakin mendesak.
Tanpa sistem pembinaan yang kuat sejak usia dini, sulit bagi Indonesia untuk bersaing secara konsisten di level Asia, apalagi dunia.
Dorongan dari Herdman dan pengamatan Tahamata menjadi pengingat bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan talenta.
Tantangan utamanya adalah bagaimana mengelola potensi tersebut melalui sistem yang terstruktur, kompetisi berjenjang, serta pembinaan yang dimulai sejak usia 7 hingga 8 tahun, seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju.
Jika hal ini mampu diwujudkan, bukan tidak mungkin generasi muda Indonesia akan menjadi tulang punggung kejayaan sepak bola nasional di masa mendatang. (udn)
Load more