Media Vietnam Tak Mau Kalah, Sebut Pemain Naturalisasinya Jauh Lebih Kuat dari Timnas Indonesia
- AFC
tvOnenews.com - Timnas Indonesia bersiap menatap tantangan besar di ajang ASEAN Cup dengan ambisi mengukir sejarah baru.
Turnamen paling bergengsi di Asia Tenggara itu kembali menjadi panggung bagi skuad Garuda untuk memburu trofi juara yang selama ini masih belum berhasil dibawa pulang.
Berdasarkan hasil undian resmi, Indonesia tergabung di Grup A bersama Vietnam, Singapura, dan Kamboja.
Satu slot tersisa akan ditentukan melalui babak kualifikasi antara Brunei Darussalam dan Timor Leste.
Komposisi grup ini langsung memunculkan aroma persaingan sengit, terutama karena adanya Vietnam yang berstatus salah satu kekuatan dominan di kawasan.
Pelatih kepala Indonesia, John Herdman, menyambut hasil undian dengan sikap optimistis.
Juru taktik asal Inggris itu menilai menghadapi tim kuat sejak fase grup justru menjadi kesempatan ideal untuk mengukur sekaligus mematangkan kesiapan tim.
“Pembelajaran itu pasti akan kami terapkan saat melawan sang juara bertahan (Vietnam),” kata Herdman.
Menurutnya, pengalaman menghadapi tekanan di level tinggi akan menjadi modal penting bagi para pemain.
Ia menegaskan bahwa mentalitas skuad Garuda saat ini jauh lebih matang dibanding periode-periode sebelumnya.
Evaluasi dari laga-laga besar yang telah dilalui, termasuk pertemuan di kompetisi resmi Asia, menjadi fondasi dalam menyusun pendekatan taktik ke depan.
Secara historis, Indonesia sempat berada di atas angin dalam beberapa pertemuan terakhir.
Pada periode akhir 2023 hingga awal 2024, Garuda mampu mencatatkan tiga kemenangan atas Vietnam di berbagai ajang, termasuk turnamen level Asia dan kualifikasi internasional.

- Instagram @erickthohir
Tren tersebut menunjukkan bahwa jarak kualitas kedua tim tidak lagi sejauh satu dekade lalu.
Namun demikian, media Vietnam melihat situasi kini telah berubah.
Salah satu media olahraga terkemuka di Vietnam, Thanh Nien, memuat analisis yang menyoroti peningkatan signifikan dalam kekuatan skuad mereka.
Di bawah arahan pelatih asal Korea Selatan, Kim Sang-sik, Vietnam disebut memiliki komposisi tim yang semakin solid.
“Vietnam di bawah asuhan pelatih Kim Sang-sik juga memiliki skuad pemain naturalisasi berkualitas tinggi,” tulis Thanh Nien.
Perbandingan antara Indonesia dan Vietnam tak lepas dari isu naturalisasi pemain.
Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara memang aktif memanfaatkan jalur ini untuk meningkatkan daya saing.
Vietnam dinilai memiliki keunggulan dari sisi keterikatan budaya para pemain naturalisasi mereka.
Banyak di antaranya memiliki garis keturunan langsung atau telah lama menetap di Vietnam, sehingga proses adaptasi dinilai berjalan mulus.
Faktor ini dianggap memperkuat kohesi tim, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Media tersebut juga menyoroti postur fisik para pemain naturalisasi Vietnam yang rata-rata tinggi dan kuat dalam duel udara.
Keunggulan fisik disebut sebagai senjata penting untuk meredam agresivitas lawan di kawasan Asia Tenggara yang kini semakin kompetitif.
Tak hanya itu, keseimbangan kualitas antara pemain lokal dan naturalisasi juga menjadi poin plus.
Tidak terdapat jurang kemampuan yang mencolok, sehingga stabilitas performa tim dapat terjaga di semua lini.
“Hal ini memastikan tingkat keterampilan keseluruhan yang sangat konsisten untuk seluruh tim Vietnam,” tulis Thanh Nien.
Selain faktor teknis, Vietnam juga disebut memiliki modal psikologis yang kuat.
Dalam beberapa tahun terakhir, mereka meraih sejumlah prestasi di level kelompok umur maupun senior di kawasan ASEAN.
Rangkaian keberhasilan tersebut membentuk rasa percaya diri tinggi di dalam skuad.
“Ini adalah sesuatu yang belum pernah dicapai oleh negara sepak bola lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia,” tulis Thanh Nien.
Klaim tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Sebab, secara historis, Garuda memang beberapa kali menjadi finalis di turnamen Asia Tenggara, tetapi belum mampu mengangkat trofi juara.
Meski demikian, Indonesia datang dengan fondasi yang tak kalah menjanjikan. Program pembinaan usia muda, peningkatan kualitas kompetisi domestik, serta pengalaman pemain yang berkiprah di luar negeri memberi warna baru bagi kekuatan tim.
Pertemuan melawan Vietnam di fase grup bukan sekadar laga biasa, melainkan ujian arah perkembangan sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Jika mampu mengatasi tekanan dan menjaga konsistensi permainan, peluang melangkah jauh terbuka lebar.
ASEAN Cup 2026 pun dipastikan menjadi babak baru rivalitas klasik Indonesia dan Vietnam.
Duel ini bukan hanya soal taktik dan teknik, tetapi juga adu mental, adaptasi, serta efektivitas kebijakan jangka panjang.
Kini, publik sepak bola Asia Tenggara menanti: apakah Indonesia mampu mematahkan superioritas Vietnam, atau justru The Golden Star Warriors kembali membuktikan dominasinya?
(tsy)
Load more