Ramadan: Momentum Perbaikan Diri dan Peningkatan Akhlak
Jakarta, tvOnenews.com - Ustadz Abdul Somad (UAS) mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum tahunan, melainkan kesempatan memperbaiki diri. Persiapan duniawi seperti mudik memang penting, namun ibadah yang menjadi bekal akhirat jauh lebih utama.Â
Ramadan disebut sebagai bulan muhasabah, waktu untuk mengintrospeksi diri sebelum kelak amal benar-benar ditimbang.
Menurut UAS, Islam tidak mengajarkan meninggalkan dunia sepenuhnya. Prinsip keseimbangan menjadi kunci. Bekerja, mencari nafkah, hingga menikmati kehidupan dunia dibolehkan, selama tetap menunaikan kewajiban seperti salat, zakat, dan menjaga akhlak. Dunia dipandang sebagai jembatan menuju kebahagiaan akhirat.
Selain itu, selama hidup di dunia, manusia akan merasakan naik turunnya iman. Iman disebut bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena maksiat.Â
Maka, semangat ibadah di bulan Ramadan diharapkan tidak berhenti saat Syawal tiba. Ramadan bukan hanya bulan mengumpulkan pahala, tetapi juga momentum membangun kebiasaan baik yang berkelanjutan.
Fenomena masjid yang ramai saat Ramadan lalu kembali sepi selepasnya turut disorot. Istikamah dinilai sebagai tantangan terbesar. Konsistensi dalam ibadah membutuhkan proses, pembiasaan, serta lingkungan yang mendukung. Berjamaah dan saling mengingatkan disebut sebagai salah satu cara menjaga semangat tersebut.
Dibahas juga mengenai godaan saat berpuasa, termasuk emosi yang lebih mudah terpancing. Penurunan gula darah diakui bisa memengaruhi suasana hati, namun justru di situlah latihan pengendalian diri diuji.Â
Orang yang mampu menahan amarah saat berpuasa dinilai telah melewati ujian besar dalam pembentukan karakter.
Bagi mereka yang sakit atau dalam kondisi terbatas, pesan yang disampaikan adalah tetap berhusnuzan kepada Allah. Sakit disebut sebagai penghapus dosa, namun tetap dianjurkan berikhtiar mencari pengobatan. Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan usaha.
Selain itu, pentingnya membaca Al-Qur’an juga ditekankan. Bagi yang belum lancar, tidak perlu berkecil hati. Upaya terbata-bata dalam membaca tetap bernilai pahala.Â
Bahkan disebutkan, orang yang kesulitan membaca Al-Qur’an namun terus berusaha akan mendapatkan dua pahala: pahala membaca dan pahala perjuangan.
Ramadan merupakan bulan penuh kejutan pahala. Setiap amal kebaikan dilipatgandakan, bahkan puasa memiliki balasan khusus yang hanya Allah yang mengetahui besarnya.