‎‎Ia juga menekankan bahwa jika memang ada kendala dari tuan rumah, hal itu semestinya disampaikan secara terbuka. Sosialisasi kebijakan, kata dia, menjadi poin penting agar tidak ada negara yang merasa dirugikan.
‎‎"Karena yang paling utama, kami ingatkan juga kepada mereka bahwa fanbase sepak bola itu yang paling besar dari semua cabang olahraga yang ada di Asian Games," kata Okto.‎‎"Kami terus melakukan komunikasi. Kami berterima kasih kepada Pak Menpora atas dukungannya, sehingga komunikasi yang kami lakukan kepada pihak OCA secara langsung melalui Presidennya mudah-mudahan akan memiliki dampak terhadap kebijakan yang nanti diambil," lanjutnya.
‎‎Lebih lanjut, Okto menggarisbawahi bahwa sepak bola merupakan cabang olahraga dengan basis penggemar terbesar di Asian Games. Oleh sebab itu, kebijakan yang menyangkut partisipasi negara-negara di cabang tersebut tidak bisa diambil secara sepihak tanpa mempertimbangkan dampaknya secara luas.‎‎Ia memastikan bahwa NOC Indonesia tidak tinggal diam dan terus menjalin komunikasi intensif dengan OCA. Dukungan dari Menpora disebutnya sangat membantu dalam membuka jalur komunikasi langsung hingga ke tingkat Presiden OCA.‎‎"Yang pasti, tuan rumah itu tidak boleh semena-mena. Jadi banyak pertimbangan yang harus dilihat dan kami akan terus menyuarakan. Bukan hanya dengan
PSSI, tetapi juga dengan federasi sepak bola lainnya di Asia," jelas Okto.‎‎"Dua hari lalu, saya sudah berkomunikasi langsung dengan Ketua Sepak Bola Qatar, Jassim Al-Buenain. Dia juga merasa ini sesuatu yang harus diupayakan," sambungnya.‎‎Okto menegaskan bahwa tuan rumah tidak boleh mengambil keputusan secara sepihak tanpa mempertimbangkan kepentingan seluruh peserta. Ia menyebut banyak aspek yang harus dilihat secara komprehensif sebelum kebijakan diberlakukan.‎‎Tak hanya berkoordinasi dengan PSSI, NOC Indonesia juga melakukan komunikasi lintas negara. Okto mengungkapkan bahwa dirinya telah berbicara langsung dengan Ketua Sepak Bola Qatar, Jassim Al-Buenain, yang memiliki pandangan serupa terkait isu tersebut.
‎‎"Oh iya, pasti (protes). Dengan dibuatnya grading tanpa kualifikasi, tiba-tiba banyak negara tidak ikut. Kan hanya 16 yang ikut. Berarti sisanya dari 45 negara tidak ikut. Nah, yang sisanya itu merasa dirugikan. Padahal fanbase Asian Games pasti banyak dari sepak bola. Nah, ini suaranya sama dengan negara-negara lain," ucap Okto.
Halaman Selanjutnya :
‎Ia pun memastikan bahwa langkah protes menjadi sesuatu yang wajar dalam situasi seperti ini. Menurutnya, pembatasan hanya 16 negara dari total 45 negara anggota jelas menimbulkan rasa keberatan dari negara-negara yang tak mendapat kesempatan tampil.
Load more