Butuh Berapa Lama Manchester United Untuk Bisa Berhasil Tumbangkan Dua Raksasa Liga Champions?
- instagram manutd
tvOnenews.com - Manchester United terlalu sering memberi harapan yang berakhir menjadi kekecewaan. Dalam lebih dari satu dekade terakhir, Setan Merah berkali-kali jatuh ke titik terendah, mencetak rekor buruk, lalu bangkit sesaat sebelum kembali terperosok.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah United bisa bermain bagus, melainkan: berapa lama performa apik itu bisa dipertahankan?
Perjalanan panjang penuh luka masih segar dalam ingatan. Sejak Sir Alex Ferguson pensiun, Manchester United berganti pelatih hingga dua digit, enam di antaranya berakhir dengan pemecatan.
Musim 2024/2025 bahkan menjadi salah satu periode tergelap, ketika United finis di peringkat 15 Liga Inggris, hanya tiga strip dari zona degradasi. Sebuah posisi yang nyaris tak terbayangkan bagi klub sebesar ini.
Namun, musim 2025/2026 menghadirkan kontras ekstrem. Di tengah musim, dengan 15 laga tersisa, Manchester United kini bertengger di peringkat empat dengan 38 poin, berada di zona Liga Champions.
Lebih mencengangkan lagi, posisi itu diraih usai menaklukkan dua kekuatan terbesar Liga Inggris: Manchester City dan Arsenal, dalam dua laga beruntun yang terasa seperti perjalanan waktu ke era kejayaan lama.
Dua Kemenangan yang Mengguncang Liga Inggris

- REUTERS/Dylan Martinez
Melansir dari Antara, kemenangan 2-0 atas Manchester City bukan sekadar hasil positif. Sebelum laga itu, City asuhan Pep Guardiola tengah menikmati rekor 13 pertandingan tak terkalahkan di semua kompetisi. Namun di Old Trafford, dominasi itu runtuh.
United tampil agresif, terorganisasi, dan tanpa rasa takut. Skor 2-0 bahkan terasa menipu. Dua peluang United menghantam mistar, tiga gol dianulir, dan kiper City dipaksa melakukan serangkaian penyelamatan krusial.
Yang paling mencolok adalah satu angka: nol tembakan tepat sasaran dari City, meski diperkuat Erling Haaland, Phil Foden, dan Jeremy Doku. Setelah 23 pertandingan dengan hanya satu clean sheet, pertahanan United tiba-tiba menjelma menjadi tembok kokoh.
Lalu datang laga di Emirates Stadium. Manchester United menang 3-2 atas Arsenal, kemenangan liga pertama mereka di kandang The Gunners sejak 2017.
Itu juga menjadi kekalahan kandang pertama Arsenal sepanjang musim 2025/2026, serta kali pertama mereka kebobolan tiga gol dalam 121 pertandingan terakhir.
Carrick dan Kembalinya DNA Manchester United
Fakta menariknya, Arsenal di era Mikel Arteta hampir tak pernah kalah ketika mencetak dua gol.
Pengecualian hanya terjadi dua kali: saat kalah 2-3 dari Manchester United pada Desember 2021, dan kembali kalah dengan skor identik pada Januari 2026, kali ini dengan Michael Carrick berdiri di sisi lapangan sebagai pelatih.

- instagram Manchester United dan Arsenal
“Pertandingan seperti ini adalah laga yang kami impikan. Saat saya datang ke United, pertandingan seperti inilah yang saya tonton di televisi,” ujar Matheus Cunha, pencetak gol penentu kemenangan atas Arsenal.
Legenda klub pun ikut bersuara. “Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, menonton Manchester United bermain sungguh menyenangkan. Terima kasih Carrick,” kata Peter Schmeichel.
Michael Owen menambahkan, “Itulah gambaran singkat Manchester United dalam 10 sampai 12 tahun lalu. Mereka bermain seperti Manchester United-nya Sir Alex Ferguson.”
Carrick menunjukkan keberanian yang jarang terlihat. Saat unggul 2-1 atas Arsenal, ia tidak memilih bertahan, melainkan menambah daya serang.
Filosofinya jelas: Manchester United tidak dibentuk untuk menjaga keunggulan satu gol, melainkan untuk mencari gol berikutnya.
Bagi mereka yang tumbuh dengan United era Cantona, Giggs, Scholes, Rooney, hingga Cristiano Ronaldo muda, dua laga terakhir terasa seperti lemparan nostalgia.
Bertahan rapat, merebut bola dengan agresif, operan singkat, serangan cepat, dan penyelesaian klinis. Sepak bola sederhana, hampir kuno, tapi mematikan.
Namun, Manchester United pernah berada di titik ini sebelumnya. Euforia serupa muncul di era Ole Gunnar Solskjaer, sebelum akhirnya runtuh. Masalahnya kerap bukan hanya pelatih, melainkan struktur klub dan konsistensi mental.
Merasa optimistis sah-sah saja. Tapi sejarah mengajarkan, kebangkitan sejati United selalu ditentukan oleh satu hal: mentalitas.
Warisan Sir Alex Ferguson terus relevan. Ia pernah kalah di sembilan final, dan setiap kekalahan, katanya, membuatnya menjadi manajer yang lebih baik keesokan hari.
Pertanyaannya kini sederhana, tapi berat: apakah momen ini awal dari kebangkitan panjang, atau sekadar kilatan cahaya yang segera padam?
Load more