Nostalgia El Clasico Indonesia: Lorenzo Cabanas Ceritakan Suasana 'Gila' Jelang Laga Persib vs Persija
- ANTARA
tvOnenews.com - Bagi pendukung setia Macan Kemayoran maupun Maung Bandung, nama Lorenzo Guzman Cabanas Ayala tentu bukan hal yang asing.
Gelandang asal Paraguay ini meninggalkan jejak tak terlupakan di sepak bola Indonesia pada era pertengahan 2000-an, baik di level klub maupun dalam ingatan para fanatik suporter.
Lorenzo Cabanas, yang lahir 10 Agustus 1979 di Ciudad del Este, Paraguay, datang ke Indonesia pada 2005 dan menjadi bagian penting dari perjalanan sepak bola lokal.
Dia memulai kiprahnya bersama Persija Jakarta pada musim 2005–2006 sebelum merantau ke Persiba Balikpapan dan akhirnya menemukan tempat istimewa di hati Bobotoh bersama Persib Bandung.
- Kolase tvOnenews
Dalam sebuah wawancara dengan situs berita Cronica, Cabanas mengenang salah satu momen yang paling menggetarkan dalam kariernya di Tanah Air: laga klasik antara Persija dan Persib.
“Sebuah pertandingan klasik (Persija–Persib). Dan orang-orang yang sangat fanatik dan menjadi gila ketika mereka pergi untuk menonton laga klasik,” ujar Lorenzo Cabanas.
Menurut pengakuannya, suasana bisa sangat intens, bahkan berlebihan, sampai-sampai dirinya dan rekan satu tim dijemput dari hotel dengan mobil “barracuda” dan pernah melihat insiden bus menghancurkan beberapa blok stadion.
“Itu gila… sebelum pertandingan dimulai mereka sudah berkumpul sekitar 60.000 orang,” tambahnya mengilustrasikan sensasi luar biasa dari pertandingan itu.
Selain memori laga klasik itu, kontribusi Cabanas di lapangan turut mengokohkan namanya sebagai sosok yang dicintai.
Di Persib Bandung, ia tampil sebanyak 60 kali dan mencetak 12 gol, termasuk banyak gol dari tendangan bebas serta assist matang yang memperkuat lini tengah tim.
Permainan kreatif dan visi taktisnya membuatnya menjadi salah satu playmaker asing terbaik di kompetisi Indonesia saat itu dan digemari oleh bobotoh.
Uniknya, meskipun ia juga pernah memperkuat sang rival, Persija, Cabanas tetap berhasil mencuri hati dua basis suporter besar di Indonesia, sebuah prestasi yang langka bagi pemain asing di negeri ini.
Setelah masa bermainnya di Indonesia berakhir pada 2009, Cabanas memutuskan pulang ke Paraguay dan mengakhiri karier profesionalnya pada 2010.
Load more