Belum Usai Kasus Hilmi, Tendangan Kungfu Kembali Terjadi di Liga 4: Ada yang Salah dengan Mental Pemain?
- Tangkapan layar youtube
tvOnenews.com - Kabar soal “tendangan kungfu” di Liga 4 Indonesia belum juga reda. Setelah publik dikejutkan oleh aksi brutal Muhammad Hilmi Gimnastiar di Liga 4 Jawa Timur, kini insiden serupa kembali mencuat hanya berselang satu hari.
Kali ini, kekerasan terjadi di Liga 4 wilayah Yogyakarta. Rangkaian peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius: apakah tindakan kasar sudah menjadi pola berulang di kompetisi kasta terbawah sepak bola Indonesia?
Fenomena ini semakin memprihatinkan karena terjadi di level kompetisi yang seharusnya menjadi wadah pembinaan pemain muda.
Alih-alih memperlihatkan teknik dan sportivitas, Liga 4 justru kembali viral akibat aksi yang menyerupai bela diri. Publik pun mulai mempertanyakan kualitas pengawasan wasit, edukasi fair play, hingga kesiapan mental para pemain.
Insiden Tendangan ke Wajah di Laga UAD vs KAFI Jogja FC
Aksi tendangan brutal terbaru terjadi pada Selasa (6/1/2026) dalam pertandingan antara UAD melawan KAFI Jogja FC. Laga tersebut berlangsung di Lapangan Sitimulyo.
Saat KAFI Jogja FC unggul 1-0 dan pertandingan memasuki menit ke-73, seorang pemain KAFI bernomor punggung dua melepaskan tendangan keras ke arah wajah pemain UAD bernomor punggung 24.
Dalam tayangan video yang beredar luas di media sosial, tampak jelas pemain UAD terjatuh sambil memegangi pipinya karena kesakitan.
Namun, keputusan wasit menuai kritik tajam. Sang pengadil lapangan hanya memberikan kartu kuning kepada pemain KAFI, tanpa mengeluarkan kartu merah.
Yang lebih disorot, wasit terlihat meminta pemain UAD segera bangkit tanpa memanggil tim medis untuk melakukan pemeriksaan.
Pertandingan pun dilanjutkan dengan cepat, meski korban sempat tergeletak cukup lama. Insiden ini langsung viral dan memicu kemarahan warganet yang membandingkannya dengan kasus tendangan kungfu sebelumnya di Liga 4 Jawa Timur.
Bayang-Bayang Kasus Hilmi yang Belum Hilang
Aksi di Yogyakarta ini mengingatkan publik pada peristiwa sehari sebelumnya, yakni insiden Putra Jaya Pasuruan vs Perseta Tulungagung pada Senin (5/1/2026).
- Instagram/@perseta1970
Dalam laga tersebut, pemain Putra Jaya, Muhammad Hilmi Gimnastiar, melakukan tendangan kungfu ke arah dada Firman Nugraha Ardhiansyah.
Akibat tendangan tersebut, Firman mengalami kondisi serius, mulai dari kejang, sesak napas, hingga retak tulang rusuk. Komite Disiplin (Komdis) Asprov PSSI Jawa Timur kemudian menjatuhkan sanksi terberat: larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup kepada Hilmi.
Putusan Komdis PSSI Jawa Timur bernomor 001/KOMDIS/PSSI-JTM/I/2026 menyatakan bahwa Hilmi melanggar ketentuan perilaku buruk terhadap pemain lawan dalam babak 32 besar Grup CC Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025–2026. Komdis menilai tindakan tersebut sebagai kekerasan berat (violent conduct).
“Menendang pemain lawan hingga menyebabkan luka parah di bagian dada,” demikian salah satu poin dalam hasil pemeriksaan Komdis.
Perseta Tulungagung kemudian mengabarkan bahwa kondisi Firman mulai membaik.
“Alhamdulillah kondisi pemain kita Firman Nugraha sudah berangsur membaik. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah mensupport dan mendoakan,” tulis Perseta 1970 melalui Instagram pada 6 Januari 2026.
Apakah Tendangan Kungfu Jadi Ciri Khas Liga 4?
Munculnya dua insiden serupa dalam rentang waktu yang sangat dekat memunculkan kekhawatiran serius. Tendangan kungfu jelas bukan ciri khas sepak bola, apalagi di level pembinaan.
Namun, kasus berulang ini menunjukkan adanya persoalan mendasar, mulai dari kontrol emosi pemain, kualitas kepemimpinan wasit, hingga sistem pengawasan pertandingan.
Tekanan kompetisi, minimnya edukasi soal fair play, serta lemahnya sanksi di beberapa daerah bisa menjadi pemicu.
Dalam kasus Hilmi, sanksi seumur hidup memang memberikan efek jera. Namun, insiden di Yogyakarta memperlihatkan bahwa penegakan disiplin belum merata.
Jika tidak ada evaluasi menyeluruh dari PSSI dan Asprov, Liga 4 berisiko dikenal bukan sebagai tempat lahirnya talenta, melainkan sebagai panggung kekerasan.
Tendangan kungfu bukan identitas sepak bola Indonesia—dan tidak boleh dibiarkan menjadi “ciri khas” baru di Liga 4. (udn)
Load more