Boston: Enam Bintang (Bagian-2 Habis)
- tim tvonenews
Ada ratusan petugas marshal menjaga rute lari sepanjang 42 kilometer, sejak persiapan pelari menuju titik-titik stars (yang dibagi dalam zona zona), hingga lokasi pengambilan medali. Sayang saya tak bertemu lagi dengan perempuan muda yang kabarnya jadi salah satu marshal di sepanjang rute Boston Marathon ke 128 tahun ini. Tapi ada ratusan marshal di sini dan saya tengah terengah engah menaklukan jalur yang mirip trail run tapi digelar di jalan aspal itu.
Dijuluki sebagai salah satu marathon dunia paling sulit, karena medan yang penuh elevasi dan cuaca kerap tak menentu, entah kenapa banyak pelari selalu ingin kembali mengulang berlari di Boston Marathon. Haruki Murakami misalnya mengikuti ajang ini hingga enam kali. Banyak pelari dari tanah air, misalnya saya tahu, seperti terpanggil untuk selalu mengulangi lagi menaklukan alam Boston.
Begitulah, berlari di Boston Marathon sekaligus menamatkan Enam Bintang saya di pekan lalu, saya merasakan Boston telah pulih. Tak ada lagi jejak-jejak ketakutan ketika bom pernah meluluhlantakan lintasan, mencerai beraikan pelari tak jauh dari garis finish sepuluh tahun lalu.
Dari video di media sosial mudah kita lacak, gambar gambar ratusan pelari seketika kocar kacir ketika dentuman pertama meledak. Berselang 14 detik, dentuman berikutnya terdengar memecah mimpi pelari menyelesaikan lomba meski finish sudah di depan mata. Ada tiga penonton ajang lari itu yang tewas di tempat, ratusan lainnya luka luka. Tsarnaev Bersaudara, dua kakak beradik pelaku yang meletakan bom di dekat garis finish agaknya tahu marathon telah jadi bahasa universal warga dunia sehingga merencanakan teror di ajang itu.
Boston Marathon adalah hari raya bagi pelari: ada suka cita, kegembiraan, haru biru bagi jutaan pelari saat di garis finish dan atau warga di rumah yang menyaksikan lomba. Seperti koor, warga dunia mengutuk ramai-ramai tindakan teror yang mencederai kegembiraan yang telah berumur hampir lebih 116 tahun (pada 2013 ketika bom meledak).
"Sesuatu yang seharusnya murni sudah dicemari, dan saya --juga sebagai warga dunia yang menyebut diri pelari -- ikut terluka,” ujar Haruki Murakami, novelis Jepang yang pernah tinggal di pinggiran Boston selama tiga tahun.
Load more